<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629</id><updated>2011-11-27T20:55:04.813+07:00</updated><category term='pemilu'/><category term='tips dan trik'/><category term='pembelajaran biologi'/><category term='foto bugil'/><category term='pendidikan'/><category term='multiple intelligence'/><category term='biologi'/><category term='PTK'/><category term='Multi Level Link'/><category term='privat'/><category term='english teacher'/><category term='UNAS'/><category term='sertifikasi'/><title type='text'>INOVASI GURU</title><subtitle type='html'>TEMPAT KREASI, INOVASI, EKSPRESI DIRI, DAN SHARING ACTIVITY</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-1065868141482188052</id><published>2011-04-02T14:04:00.000+07:00</published><updated>2011-04-02T14:04:43.185+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PTK'/><title type='text'>PTK..........peluang atau bencana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasar &lt;a href="http://www.4shared.com/file/B7o3pxQR/Permenpan_16-2009.htm"&gt;Permenpan No. 16 tahun 2009&lt;/a&gt; tentang Jabatan Fungsional Guru dan  Angka Kreditnya, dan &lt;a href="http://www.4shared.com/file/rRYbLdnX/peraturan_bersama_mendiknas_da.html"&gt;Peraturan Bersama Mendiknas-BKN No. 03/V/PB/2010  dan No. 14 Tahun 2010&lt;/a&gt; tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional  Guru dan Angka Kreditnya, serta Permendiknas No. 35 tahun 2010 tentang  Juknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, bahwa  setiap guru untuk dapat naik pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi  (mulai dari Gol. III/a ke III/b) salah satu unsur penilainnya adalah  unsur pengembangan profesi berupa Karya Tulis Ilmiah. Hal ini berbeda  dengan Permenpan JabFungGur sebelumnya dimana kewajiban unsur  pengembangan profesi hanya diperuntukkan bagi mereka yang akan naik dari  gol. IV/a ke IV/b. Dan Permendiknas/Permenpan ini berlaku efektif untuk  penilaian angka kredit per-1 Januari 2013.&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan mendasar bagi kita semua, para guru, "SUDAHKAH KITA SIAP MENGANTISIPASI PERUBAHAN TERSEBUT ?"&lt;br /&gt;
Siap - tidak siap, mampu - tidak mampu, mau -tidak mau....palu telah diketok, dan bagaimanapun THE SHOW MUST GO ON.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-1065868141482188052?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/1065868141482188052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=1065868141482188052&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/1065868141482188052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/1065868141482188052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2011/04/ptkpeluang-atau-bencana.html' title='PTK..........peluang atau bencana'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-4517326224607328743</id><published>2010-07-07T19:47:00.001+07:00</published><updated>2010-07-18T13:27:22.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sertifikasi'/><title type='text'>RAMBU-RAMBU PENYUSUNAN PORTOFOLIO GURU</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; Batas minimal kelulusan (passing grade) adalah 850 yang terdiri dari 3 unsur penilaian :&lt;br /&gt;
A. Unsur Kualifikasi dan Tugas Pokok&lt;br /&gt;
1. Kualifikasi akademik &lt;br /&gt;
2. Pengalaman mengajar&lt;br /&gt;
3. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran&lt;br /&gt;
 Total skor unsur minimal 340&lt;br /&gt;
 Komponen 3 minimal 120&lt;br /&gt;
 Tidak boleh ada komponen yang kosong&lt;br /&gt;
B. Unsur Pengembangan Profesi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pendidikan dan latihan/workshop&lt;br /&gt;
2. Penilaian atasan dan pengawas&lt;br /&gt;
3. Prestasi akademik&lt;br /&gt;
4. Karya pengembangan profesi&lt;br /&gt;
 Total skor unsur minimal 300&lt;br /&gt;
 Skor komponen 2 minimal 35&lt;br /&gt;
 Guru daerah khusus total skor unsur minimal 200&lt;br /&gt;
C. Unsur Pendukung Profesi&lt;br /&gt;
1. Keikutsertaan dalam forum ilmiah&lt;br /&gt;
2. Pengalaman organisasi bidang kependidikan dan atau sosial&lt;br /&gt;
3. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan&lt;br /&gt;
 Total skor tidak boleh nol (minimal harus ada)&lt;br /&gt;
Yang perlu diperhatikan&lt;br /&gt;
1. Kualifikasi akademik&lt;br /&gt;
Ijazah harus sesuai dengan bidang studi yang diampunya saat pengajuan portofolio&lt;br /&gt;
2. DIKLAT/WORKSHOP&lt;br /&gt;
 Sertifikat dikeluarkan oleh instansi/lembaga/organisasi pendidikan&lt;br /&gt;
 Disertai hasil kerja/produk untuk kegiatan workshop yang ditandatangani penyelenggara kegiatan dan atau kepala sekolah, sedang DIKLAT tidak disertakan hasil kerja&lt;br /&gt;
 Diklat/workshop 1 hari = 10 jam&lt;br /&gt;
 Pendidikan prajabatan/STTPL yang digunakan sebagai persyaratan PNS tidak diperhitungkan&lt;br /&gt;
 Sertifikat Diklat/workshop yang mendapat penilaian adalah kegiatan yang secara langsung meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru (relevan) atau kegiatan yang materinya mendukung kinerja profesional guru (kurang relevan)&lt;br /&gt;
 Kegiatan yang pelaksanaannya kurang dari 8 jam tidak dapat diajukan sebagai bahan penilaian&lt;br /&gt;
3. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran&lt;br /&gt;
 Mengumpulkan 5 buah RP/RPP/SP yang berbeda materi/pokok bahasannya&lt;br /&gt;
 RP/RPP/SP sekurang-kurangnya harus memuat :&lt;br /&gt;
a. Rumusan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;
b. Pemilihan materi ajar/rangkuman materi esensial/pokok&lt;br /&gt;
c. Pengorganisasian materi ajar (pembagian waktu/kesesuaian antara materi dengan waktu yang tersedia)&lt;br /&gt;
d. Pemilihan sumber/media belajar (disesuaikan dengan skenario pembelajaran)&lt;br /&gt;
e. Kerincian skenario pembelajaran (diuraikan tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran dari pendahuluan hingga kegiatan penutup)&lt;br /&gt;
f. Kesesuaian teknik penilaian dengan tujuan pembelajaran (contoh : jika ada kegiatan praktikum berarti salah satu jenis penilaian yang digunakan adalah penialaian kinerja/unjuk kerja dsb)&lt;br /&gt;
g. Kelengkapan instrumen pembelajaran (instrumen apa saja yang termuat dalam RPP harus ada penjabarannya, mulai materi, alat peraga, soal penilaian/tes dan pedoman penskoran)&lt;br /&gt;
 RPP merupakan indikator pertama untuk melakukan penilaian dokumen PF lainnya, jika RPP tidak memenuhi syarat kelayakan (Instrumen Penialaian RPP) maka dokumen lainnya tidak akan berpengaruh&lt;br /&gt;
4. Kecermatan dalam memasukkan setiap unsur penilaian akan sangat menentukan tingkat kelulusan&lt;br /&gt;
5. Dokumen berupa karya tulis/karya ilmiah/PTK harus dilampiri bukti photo pelaksanaan kegiatan&lt;br /&gt;
6. Alat peraga/media pembelajaran karya sendiri dilampiri bukti photo mulai 0% (bahan baku), proses pembuatan samapai penggunaan dalam KBM&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komponen RPP adalah : &lt;br /&gt;
1. Identitas mata pelajaran &lt;br /&gt;
Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan. &lt;br /&gt;
2. Standar kompetensi &lt;br /&gt;
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.&lt;br /&gt;
3. Kompetensi dasar &lt;br /&gt;
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.&lt;br /&gt;
4. Indikator pencapaian kompetensi &lt;br /&gt;
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. &lt;br /&gt;
5. Tujuan pembelajaran &lt;br /&gt;
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. &lt;br /&gt;
6. Materi ajar &lt;br /&gt;
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.&lt;br /&gt;
7. Alokasi waktu &lt;br /&gt;
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar.&lt;br /&gt;
8. Metode pembelajaran &lt;br /&gt;
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ¬asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran tematik digunakan untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 SD/MI. &lt;br /&gt;
9. Kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;
a. Pendahuluan&lt;br /&gt;
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. &lt;br /&gt;
b. Inti &lt;br /&gt;
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran di¬lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. &lt;br /&gt;
c. Penutup &lt;br /&gt;
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. &lt;br /&gt;
10. Penilaian hasil belajar &lt;br /&gt;
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian. &lt;br /&gt;
11. Sumber belajar &lt;br /&gt;
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kom-petensi.&lt;br /&gt;
PTK&lt;br /&gt;
Penelitian tindakan kelas/PTK adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secar kolaboratifdan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelaporan PTK, minimal harus memenuhi hal – hal berikut :&lt;br /&gt;
1. Judul : ada permasalahan, pemecahan masalah, subyek PTK&lt;br /&gt;
2. Pengesahan oleh kepala sekolah, ketua PGRI, ketua UPT kecamatan (untuk guru SD), kepala dinas pendidikan&lt;br /&gt;
3. Abstrak meliputi : judul dan nama penulis, latar belakang tujuan dan manfaat, metode penelitian, hasil penelitian, kata kunci&lt;br /&gt;
4. Dafatr isi, daftar gambar, daftar tabel, pernyataan keaslian tulisan (jika dipandang perlu)&lt;br /&gt;
5. Pendahuluan :&lt;br /&gt;
a. Latar belakang masalah&lt;br /&gt;
b. Rumusan masalah&lt;br /&gt;
c. Tujuan penelitian&lt;br /&gt;
d. Manfaat penelitian&lt;br /&gt;
e. Ruang lingkup&lt;br /&gt;
f. Definisi operasional penelitian/definisi istilah (jika perlu)&lt;br /&gt;
6. Kajian Pustaka&lt;br /&gt;
a. Uraian tentang variabel 1&lt;br /&gt;
b. Uraian tentang variabel 2&lt;br /&gt;
c. Kaitan variabel 1 dengan 2&lt;br /&gt;
7. Metode penelitian&lt;br /&gt;
a. Perencanaan&lt;br /&gt;
b. Pelaksanaan&lt;br /&gt;
c. Pengamatan&lt;br /&gt;
d. Refleksi&lt;br /&gt;
e. Subyek penelitian&lt;br /&gt;
f. Teknik pengumpulan data&lt;br /&gt;
g. Instrumen penelitian&lt;br /&gt;
h. Penyiapan partisipan&lt;br /&gt;
i. Analisis data&lt;br /&gt;
8. Hasil pembahasan&lt;br /&gt;
a. Perencanaan siklus 1&lt;br /&gt;
b. Pelaksanaan siklus 1&lt;br /&gt;
c. Pengamatan siklus 1&lt;br /&gt;
d. Refleksi siklus 1&lt;br /&gt;
e. Perencanaan siklus 2&lt;br /&gt;
f. Pelaksanaan siklus 2&lt;br /&gt;
g. Pengamatan siklus 2&lt;br /&gt;
h. Refleksi siklus 2&lt;br /&gt;
i. De-es-te menyesuaikan&lt;br /&gt;
j. Pembahasan siklus/perbandingan antar siklus&lt;br /&gt;
9. Penutup &lt;br /&gt;
a. Simpulan : merupakan jawaban dari rumusan masalah&lt;br /&gt;
b. Saran : terkait dengan simpulan penelitian&lt;br /&gt;
c. Daftar pustaka : hanya buku yang dirujuk saja dan ditulis dengan aturan tata tulis ilmiah&lt;br /&gt;
10. Lampiran :&lt;br /&gt;
a. Kelengkapan RPP&lt;br /&gt;
b. Kelengakapan instrumen penelitian&lt;br /&gt;
c. Bahan perlakuan : materi ajar, perlengkapan, dan alat-alat tes&lt;br /&gt;
d. Surat ijin penelitian (jika ada)&lt;br /&gt;
e. Data pendukung lain (bukti otentik bahwa telah dilakukan penelitian) berupa photo kegiatan, denah/bagan, hasil karya siswa dsb&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEDIA/ALAT PERAGA PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan peserta sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta pembelajaran.&lt;br /&gt;
Sistematika pelaporan media/alat peraga pembelajaran&lt;br /&gt;
1. Halaman judul&lt;br /&gt;
2. Lembar pengesahan&lt;br /&gt;
3. Lembar pernyataan&lt;br /&gt;
4. Pendahuluan&lt;br /&gt;
MATA PELAJARAN  : ……………..&lt;br /&gt;
KELAS / SEMESTER : ………………..&lt;br /&gt;
MATERI POKOK   : ………………….&lt;br /&gt;
A. KOMPETENSI DASAR&lt;br /&gt;
B. INDIKATOR&lt;br /&gt;
C. JENIS MEDIA&lt;br /&gt;
D. RASIONAL DAN MANFAAT&lt;br /&gt;
 Digunakan untuk menunjukkan bahwa makhluk hidup/hewan juga melakukan pernapasan.&lt;br /&gt;
 ……………………………..&lt;br /&gt;
E. RANCANGAN&lt;br /&gt;
1) Alat dan Bahan&lt;br /&gt;
2) Proses Pembuatan&lt;br /&gt;
F. PENGGUNAAN&lt;br /&gt;
 Digunakan untuk ………………………………………………… ;&lt;br /&gt;
 Cara kerja : ………………………………………………………&lt;br /&gt;
G. SIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;
1. Sebuah media yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran akan sangat membantu siswa dalam menyusun sebuah konsep pengetahuan ;&lt;br /&gt;
2. …………………………………………………………………………………………..&lt;br /&gt;
H. PHOTO PROSES&lt;br /&gt;
a) Photo alat dan bahan yang dibutuhkan&lt;br /&gt;
b) Photo proses pembuatan&lt;br /&gt;
c) Photo pemakaian alat peraga dalam KBM &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-4517326224607328743?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/4517326224607328743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=4517326224607328743&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/4517326224607328743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/4517326224607328743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2010/07/rambu-rambu-penyusunan-portofolio-guru.html' title='RAMBU-RAMBU PENYUSUNAN PORTOFOLIO GURU'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-8474705377185814028</id><published>2010-03-12T17:27:00.008+07:00</published><updated>2010-07-07T20:05:07.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sertifikasi'/><title type='text'>SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bulan ini Bapak/Ibu guru sedang mengalami masa "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bulan madu&lt;/span&gt;" dengan beragam aktivitas yang membutuhkan tingkat konsentrasi, ketekunan, dan kepedulian yang tinggi. Di tengah kesibukan mempersiapkan siswa menghadapi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UN&lt;/span&gt;, banyak guru yang juga harus mempersiapkan "kelangsungan" dapurnya. Bulan Maret biasanya adalah bulan pengajuan kenaikan pangkat/golongan yang tentunya berimbas pada kenaikan gaji bapak/ibu guru. Dan bulan Maret juga ada satu kegiatan yang harus diikuti oleh guru (tentunya setelah harap-harap cemas menunggu gilirannya), yaitu pelaksanaan &lt;a href="http://sertifikasiguru.org/" style="font-weight: bold;"&gt;SERTIFIKASI GURU&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt; Kegiatan yang diharapkan dapat menambah kesejahteraan (dan profesionalisme) para guru. Dari berbagai perbincangan dengan teman sejawat yang sudah maupun belum tersertifikasi, kebanyakan mereka kesulitan untuk memenuhi batas nilai minimal yang 850. Beberapa hal yang dikeluhkan : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;sedikit/tidak punya sertifikat diklat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;tidak punya pengabdian masyarakat (ketua RT/RW dsb)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;tidak punya PTK&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;RPP amburadul ( ??? )&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;dan sebagainya&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;Berikut beberapa tips yang penulis lakukan untuk menyiasati permasalahan bukti fisik portofolio (yang legal loh) : &lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;bekerja sama dengan PGRI, institusi pendidikan atau media massa dan dinas pendidikan  setempat untuk menyelenggarakan kegiatan seminar atau workshop yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;melobi KS untuk mengadakan/menghidupkan MGMP tingkat sekolah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;rajin-rajinlah memohon KS agar sering diikutkan pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh dinas pendidikan (pakai jurus "jaran goyang" euy.....)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;dan sebagainya (panjenengan sebagai calon guru profesional pasti punya banyak akal toh ?) &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;Khusus untuk PTK, bapak/ibu bisa mengupload dari internet dan dipakai sebagai literatur kerangka berpikir PTK panjenengan. Dan kalau itu juga masih sulit, buat saja alat peraga pembelajaran. Satu PTK (yang ribet dan rumit penyusunannya) bernilai sama dengan empat alat peraga yang bapak/ibu buat. Padahal berdasar pengalaman penulis, satu alat peraga hanya butuh waktu (rata-rata) 3-4 hari mulai dari perancangan model sampai pelaporannya.  Jika masih kesulitan klik ajah disini sebagai contoh bagi panjenengan........ &lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8934420/BABIAlatPeraga.doc.html"&gt;alat peraga 1&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8934421/MEDIAPEMBELAJARAN.docx.html"&gt;alat peraga 2&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;Berikut juga penulis sajikan contoh penyusunan PF tahun 2010 : &lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8934605/DOKUMENPORTOFOLIOARINI.doc.html"&gt;dokumen PF 1&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8934606/DOKUMENPORTOFOLIOAMAK.doc.html"&gt;dokumen PF 2&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8934607/PWNYUASUNANPFSERGUR2010.pdf.html"&gt;dokumen PF 3&lt;/a&gt; &amp;nbsp; &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-8474705377185814028?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/8474705377185814028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=8474705377185814028&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/8474705377185814028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/8474705377185814028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2010/03/sertifikasi-guru-dalam-jabatan.html' title='SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-7456715779800199510</id><published>2010-02-07T21:27:00.004+07:00</published><updated>2010-07-08T12:56:14.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sertifikasi'/><title type='text'>SEPUTAR SERTIFIKASI</title><content type='html'>&lt;span class="fullppost"&gt; Beberapa permasalahan yang ada di PSG 15 Malang&lt;br /&gt;
1.Tentang Sertifikasi&lt;br /&gt;
Tanya: Siapa yang menentukan peserta sertifikasi?&lt;br /&gt;
Jawab: Keikutsertaan guru ditentukan oleh kantor Diknas/Depag masing-masing. Untuk guru Diknas, dari kuota setiap kota yang ditetapkan oleh LPMP dan Diknas propinsi, Diknas kota/kabupaten menentukan pesertanya. Kami hanya menerima daftar yang diajukan oleh Diknas atau kantor Depag kota/kabupaten&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimanakah status guru yang diperbolehkan mengikuti sertifikasi?&lt;br /&gt;
Jawab: Secara umum adalah guru PNS dan non PNS. Guru PNS bisa ada di sekolah negeri atau swasta (DPK). Guru non PNS adalah Guru Tetap Yayasan pada sekolah swasta dan guru pada sekolah negeri. GTY harus memiliki SK dari penyelenggara pendidikan (Yayasan). Pada sergu 2009, guru non PNS pada sekolah negeri (Guru Bantu, Guru Honorer, dan sejenisnya) bisa ikut dan harus memililki SK dari dinas pendidikan kabupaten / kota / propinsi, dan bukan diangkat oleh kepala sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimanakan penghitungan masa kerja?&lt;br /&gt;
Jawab: Masa kerja adalah persyaratan awal seorang guru bisa mengikuti sertifikasi (setelah sebagai guru tetap, lihat pertanyaan sebelumnya). Sesuai aturan 2009, guru yang mengikuti sertifikasi minimal sudah bekerja selama 4 tahun pada suatu satuan pendidikan dan pada saat keluarnya UU no 14 tahun 2005, yang bersangkutan sudah menjadi guru. Jadi bila dihitung belum mencapai 4 tahun atau yang tercantum di SK berbunyi masa kerjanya kurang dari 4 tahun, maka belum bisa mengikuti sertifikasi pada tahun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Apa beda dengan pengalaman kerja?&lt;br /&gt;
Jawab: Pengalaman kerja adalah lamanya seorang guru mengajar sejak awal tanpa melihat statusnya. Pengalaman kerja dihitung sejak dari yang bersangkutan menjadi guru (secara kumulatif), baik sebagai guru tetap maupun guru tidak tetap, pada sekolah tempat bekerja sekarang atau sekolah lainnya. Bila pada saat yang sama mengajar pada lebih dari satu sekolah, maka hanya salah satu saja yang dihitung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Mengapa kuota guru swasta sangat kecil?&lt;br /&gt;
Jawab: Kuota guru swasta memang hanya 15-25% dari kuota guru per kota/kabupaten. Hal ini sudah ditetapkan KSG.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimana bila tahun ini mengundurkan diri? Apa bisa ikut tahun selanjutnya?&lt;br /&gt;
Jawab: Bisa saja mundur tahun ini dan ikut tahun berikutnya. Tetapi ingat bahwa ada kuota per kota dan jenjang, sehingga mungkin harus bersaing dengan guru lainnya. Tapi, kenapa harus mundur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Saya sekarang sedang berstatus CPNS, apakah bisa mengikuti sertifikasi?&lt;br /&gt;
Jawab: CPNS adalah awal dari PNS, yaitu sebagai guru tetap di sekolah negeri atau swasta (DPK). Saat ini ada yang masuk CPNS dari jalur Guru Honorer, sehingga masa kerja golongan pada saat diangkat tidak 0 tahun 0 bulan. Lihat apakah masa kerja sudah memenuhi? Bila memang belum, apalagi ada di sekolah yang berbeda dengan yang diusulkan di portofolio, sebaiknya ditunda dulu sampai semua menjadi jelas. Yang jelas seorang guru maju sertifikasi harus dari satu sekolah saja dan satu status saja (PNS saja atau GTY saja dst).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bidang studi saya waktu kuliah IPA, setelah lulus saya mengajar TIK dan mengikuti sertifikasi guru TIK dan saya lulus padahal saya tidak menguasai pelajaran TIK. Sekarang saya diangkat CPNS. Bisakah saya mengikuti sertifikasi lagi sebagai guru IPA pada waktu saya PNS karena saya benar-benar tidak menguasai TIK?&lt;br /&gt;
Jawab: Keputusan mengikuti sertifikasi salah satunya adalah dari diri sendiri. Kenapa dipaksakan bila tidak cocok? Aturan tidak melarang seorang guru mengikuti sertifikasi lagi. Tetapi perhatikan bahwa ada sekian banyak guru yang mengantri dalam kuota per tahunnya. Yang disertifikasi adalah matapelajaran/bidang studi yang diampu/diajar, bukan yang disukai atau sesuai ijazah. Jadi yang dinilai adalah keprofesionalan di mapel tsb. Sudah banyak kasus yang ikut mapel “A” tetapi begitu PLPG diberi materi mapel “A” tidak bisa mengikuti karena basicnya memang “B”. Salah satu contoh adalah seorang KS/WKS yang mengikuti sertifikasi guru BK. Ketika PLPG, banyak hal yang tidak dikuasai tentang ilmu BK karena dasarnya bukan sebagai guru BK.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;b&gt;2. Tentang Portofolio&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;br /&gt;
Tanya: Apakah boleh ijazah yang berbeda dengan bidang studi yang diajarkan?&lt;br /&gt;
Jawab: Ijazah tidak terkait dengan bidang studi yang diambil. Hanya saja berpengaruh terhadap nilai/skor karena ada perbedaan antara yang sesuai, serumpun, dan tidak sesuai. Ada juga perbedaan nilai dengan melihat apakah dari jalur kependidikan atau non kependidikan. Ada juga perbedaan nilai bila memiliki akta atau tidak. Jadi bapak/ibu tetap bisa ikut sertifikasi dengan ijazah yang ada. Bila ada ijazah S1 kedua, S2, S3 sertakan juga. Hal itu bisa menambah nilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Kalau ijazah saya Matematika tetapi mengajar TIK, saya harus ikut sertifikasi untuk Matematika atau TIK?&lt;br /&gt;
Jawab: Yang disertifikasi adalah bidang studi/mata pelajaran yang DIAJARKAN, bukan ijazahnya. Apa yang diajarkan dibuktikan dengan surat tugas mengajar dan RPP yang sesuai. Bila bapak RPPnya adalah TIK maka akan disertifikasi sebagai guru TIK karena itu kenyataan yang kami ketahui dari berkas dan asesor matematika tidak berhak menilai TIK. Ibaratnya bila bapak sehari-hari mengendarai sepeda motor tentu akan meminta SIM C bukan SIM A, dan mengikuti ujian untuk SIM C, walaupun bapak juga bisa mengemudikan mobil. Memang guru profesional adalah guru yang mengajar sesuai latar belakang pendidikannya, tetapi banyak ditemui berbagai kasus yang memaksa seorang guru mengajar bidang studi/mata pelajaran yang berbeda. Ingat, sertakan RPP sesuai dengan apa yang diajukan untuk sertifikasi. Kami tidak bisa menilai kompetensi seorang guru yang meminta disertifikasi sebagai guru Penjaskes kalau isi RPPnya adalah BK.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Mengapa ada guru yang masa kerjanya sedikit bisa lulus, padahal ada yang masa kerjanya sangat lama bahkan kepala sekolah bisa tidak lulus?&lt;br /&gt;
Jawab: Penilaian portofolio dilakukan terhadap prestasi yang didapat seorang guru selama bekerja. Walaupun masa kerjanya sedikit tetapi rajin mengikuti karya ilmiah, mengadakan penelitian, menulis buku, dan prestasi lainnya maka nilainya akan jauh lebih tinggi dari guru yang masa kerjanya lama tetapi kurang menghasilkan karya. Asesor juga tidak membedakan apakah peserta tersebut kepala sekolah atau guru biasa.&lt;br /&gt;
Tentang mengapa ada guru yang masa kerjanya lama tidak bisa ikut sertifikasi, kami hanya bisa menjawab bahwa PSG hanya menerima data peserta. Kewenangan penentuan peserta ada di dinas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Saya menyertakan banyak sertifikat seminar dan pelatihan, tetapi mengapa nilai portofolio saya kecil?&lt;br /&gt;
Jawab: Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan:&lt;br /&gt;
*) Relevansi jenis pelatihan dan forum ilmiah yang diikuti. Penilaian dilakukan terhadap kegiatan yang relevan dengan bidang studi yang diajarkan atau statusnya sebagai guru. Contoh yang tidak relevan misalnya guru PKn mengikuti workshop Otomotif. Yang lebih relevan misalkan dia mengikuti workshop penyusunan PTK.&lt;br /&gt;
*) Ketidaktepatan dalam meletakkan bukti fisik atau membedakan antara diklat dan forum ilmiah. Seminar dan lokakarya termasuk ke dalam forum ilmiah sehingga bukti fisiknya dimasukkan ke dalam komponen 8 dan bukti fisik diklat dimasukkan ke dalam komponen 2.&lt;br /&gt;
*) Bukti fisik yang meragukan, misalkan lebih dari satu seminar pada saat yang sama di tempat yang sama atau malah di tempat yang berbeda, jumlah jam pelatihan yang tidak sesuai dengan hari pelatihan atau diragukan keasliannya.&lt;br /&gt;
*) Hasil diklat / workshop yang terkait. Misal workshop (lokakarya) tentang penyusunan RPP atau PTK, seharusnya menghasilkan suatu “karya” atau “work”, misal draft rancangan RPP. Sertakan itu, karena bila tidak akan dianggap mengikuti forum ilmiah biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bila sertifikat atau piagam saya sedikit, apa yang bisa saya lakukan untuk menambah nilai?&lt;br /&gt;
Jawab: Ada 10 komponen yang dinilai, bila masih kurang di satu komponen bisa ditutupi dari komponen lainnya, misalnya pembuatan media pembelajaran, pembuatan karya ilmiah atau artikel, pembimbingan siswa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Siapa yang melegalisasi portofolio kepala sekolah?&lt;br /&gt;
Jawab: Yang melegalisasi adalah atasan kepala sekolah, yaitu pihak Diknas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Mengapa banyak guru swasta yang tidak lulus portofolio atau PLPG?&lt;br /&gt;
Jawab: Asesor tidak membedakan apakah peserta adalah PNS atau GTY, apakah kepala sekolah atau guru, senior atau yunior, dan apakah berasal dari sekolah negeri atau swasta. Penilaian semata-mata dilakukan dari dokumen portofolio.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Mengapa ada guru yang rajin tetapi tidak lulus penilaian portofolio?&lt;br /&gt;
Jawab: Satu hal yang penting diperhatikan adalah asesor menilai barang mati yaitu dokumen portofolio yang tidak bisa “ditanya”. Semakin lengkap, berkualitas dan meyakinkan isi berkas tersebut, tidak ada alasan untuk tidak memberikan nilai dan semakin tinggi nilainya dibanding yang isinya “biasa” saja. Asesor tidak pernah tahu secara fisik apa saja yang dilakukan guru di kelas (apakah sesuai, kreatif, bagus atau tidak), dan prestasi apa yang dihasilkan oleh guru selain apa yang dicantumkan di berkas tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Apakah yang dimaksud dengan status Klarifikasi (K)?&lt;br /&gt;
Jawab: Klarifikasi adalah keputusan penilaian asesor yang diberikan bagi portofolio yang meragukan atau diindikasikan melakukan pelanggaran, misalnya pada ijazah, sertifikat, atau karya ilmiah. Guru yang bersangkutan akan dipanggil dengan membawa bukti-bukti yang diperlukan. Bila terbukti melakukan pelanggaran, guru yang bersangkutan akan didiskualifikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Apakah yang dimaksud dengan status Diskualifikasi (DIS)?&lt;br /&gt;
Jawab: Diskualifikasi adalah keputusan yang diberikan kepada peserta yang melakukan kecurangan dalam pemberkasan portofolio (terbukti secara langsung atau tidak langsung) atau tidak terpenuhinya syarat utama keikutsertaan peserta (masa kerja kurang, bukan guru tetap, atau kualifikasi akademiknya) atau melakukan upaya penyuapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimana bila ada dokumen palsu tetapi lolos atau ada pemalsuan data?&lt;br /&gt;
Jawab: Kami tidak bisa berbuat banyak untuk hal ini, mungkin karena rapi sampai bisa menipu asesor. Bila muncul sesuatu yang di belakang hari setelah portofolio dan PLPG, maka itu bukan lagi menjadi tanggung jawab PSG. Hal ini mungkin bisa dikembalikan ke guru masing-masing, sudah benarkah cara yang diambil? Apakah ini yang dinamakan guru profesional?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bisakah bila ada kesalahan pemberkasan portofolio?&lt;br /&gt;
Jawab: Bila ada kesalahan, ada beberapa opsi yang diambil memang, yaitu melakukan klarifikasi, melengkapi kekurangan, dan tidak memberikan nilai. Belum tentu kesalahan menyebabkan tidak lulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimana dengan peserta yang nilainya kurang dari batas kelulusan?&lt;br /&gt;
Jawab: Guru yang bersangkutan harus mengikuti PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) selama 90 jam pelajaran. Pada akhir PLPG diadakan Ujian. Bila tidak lulus maka peserta diberi kesempatan mengulang sebanyak-banyaknya dua kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bisakah kami mengetahui hasil penilaian portofolio?&lt;br /&gt;
Jawab: Nilai portofolio memang tidak dipublikasikan kepada guru secara langsung, tetapi kepada pihak LPMP dan PMPTK, sesuai dengan yang ada pada buku panduan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bolehkah kami mendapat atau meminta informasi penilaian dari para asesor?&lt;br /&gt;
Jawab: Asesor hanya berhak menilai, tidak berhak untuk memberikan informasi nilai atau kelulusan. Dalam sapta etika asesor butir 2 dinyatakan bahwa “Menilai kinerja guru secara objektif dan profesional, serta melaporkan hasilnya hanya kepada yang berwenang”, dan pada butir 3 dinyatakan bahwa asesor “Menjaga rahasia negara, rahasia jabatan, dan rahasia pihak yang dinilai”. Jadi jelas bahwa mereka tidak berhak menginformasikan kelulusan, nilai, memberi janji lulus, dan sebagainya. Bila ada yang bertentangan dengan PSG, kami tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;b&gt;3. Tentang PLPG&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;Tanya: Apakah peserta pasti lulus PLPG dan memperoleh sertifikat pendidik?&lt;br /&gt;
Jawab: PLPG adalah kegiatan akademik yang melibatkan proses belajar-mengajar dan evaluasi. Di dalamnya ada penilaian atas semua aspek yang dimiliki peserta didik. Nilai didapat dari prestasi peserta sendiri pada saat pelaksanaan PLPG, baik yang ditentukan peserta sendiri (pada saat ujian tulis), yang ditentukan instruktur (misal pada saat peer teaching atau penugasan yang lain), atau yang ditentukan sesama peserta (pada penilaian skor sejawat), serta dari nilai portofolio. Hanya ada dua keputusan hasil evaluasi (ujian) yaitu Lulus dan Tidak lulus. Jadi kelulusan PLPG adalah ditentukan dari peserta sendiri. Pada buku panduan juga sudah jelas disebutkan apa saja komponen penilaian PLPG, besaran masing-masing komponen, dan apa syarat kelulusannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Apakah peserta PLPG mendapat sertifikat atau piagam yang menyatakan keikutsertaannya dalam PLPG?&lt;br /&gt;
Jawab: PSG tidak mengeluarkan sertifikat semacam itu karena memang tidak ada dalam aturans dan PLPG adalah bagian terpadu dari sertifikasi guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimana nasib peserta yang Tidak Lulus dari PLPG atau DIS?&lt;br /&gt;
Jawab: Peserta tersebut dikembalikan ke Diknas dan masih bisa mengikuti sertifikasi pada tahun-tahun berikutnya. Akan tetapi keikutsertaan ulang itu merupakan keputusan Diknas masing-masing kota/kabupaten dengan tetap memperhatikan kuota pada tahun itu (belum tentu pada tahun berikutnya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;b&gt;4. Tentang Sertifikat Pendidik dan Tunjangan Profesi Pendidik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;Tanya: Bagaimana setelah sertifikat dibagikan ternyata ada penyimpangan, misalnya tidak mengajar 24 jam, atau mengajar bidang studi lain?&lt;br /&gt;
Jawab: Hal ini sudah di luar wewenang kami lagi, yang lebih mengetahui secara rinci adalah dinas, kepala sekolah, dan guru yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimana jika sesorang lulus sertifikasi dari non PNS, kemudian diangkat menjadi&lt;br /&gt;
CPNS. Apakah sertifikat itu bisa dialihkan dari non PNS ke PNS ?&lt;br /&gt;
Jawab: Sertifikasi hanya melihat status pada saat pengajuan dokumen portofolio. Bila ternyata ada perpindahan status, tempat kerja, jenjang, pasti bisa dilakukan penyesuaian dan bukan berarti sertifikat menjadi tidak berlaku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimana dengan tunjangan profesi pendidik?&lt;br /&gt;
Jawab: Kami tidak terlibat dengan hal itu, baik besarnya berapa, kapan diberikan, apa syaratnya, lewat mana penyalurannya, apakah sama antara yang lulus portofolio dan lulus PLPG, dan lainnya. Tugas kami hanya melakukan sertifikasi, mulai dari penilaian portofolio sampai penerbitan sertifikat pendidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;b&gt;5. Tentang Pendidikan Profesi Guru&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;Tanya: Saya minta informasi pelaksaan PPG dan proses seleksinya, apa benar dimulai September tahun ini?&lt;br /&gt;
Apakah juga dimungkinkan LPTK Induk dan mitra? Apakah lebih diprioritaskan untuk yang telah punya pengalaman mengajar?&lt;br /&gt;
Jawab: PPG sedang dalam pengusulan proposal oleh beberapa prodi di UM (dan LPTK lain). Jadi hasilnya belum bisa diketahui di mana saja PPG untuk prodi tertentu akan diadakan. PPG kali ini diperuntukkan untuk Guru pra jabatan yang belum bisa mengikuti Sertifikasi Guru dalam Jabatan, jadi pesertanya adalah guru yang baru diangkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;b&gt;6. Tentang Lainnya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullppost"&gt;Tanya: Bolehkah kami berkonsultasi ke PSG?&lt;br /&gt;
Jawab: Kami membuka diri kepada pada guru yang akan berkonsultasi mengenai pelaksanaan sertifikasi guru, sejauh yang menjadi wewenang kami dan kami bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Katanya ada pungutan untuk PSG atau asesor?&lt;br /&gt;
Jawab: Tidak ada biaya apapun yang dikenakan terhadap para guru peserta sertifikasi (portofolio dan PLPG) oleh PSG baik secara pribadi panitia maupun secara institusi. Semua biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan kegiatan sertifikasi berasal dari pemerintah pusat dan hal itu sesuai dengan anggaran yang ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Kemana legalisir dilakukan?&lt;br /&gt;
Jawab: Legalisasi sertifikat pendidik dilakukan di subag Pendidikan dan Evaluasi, gedung A3 (sebelah rektorat) lantai 1, pada hari dan jam kerja. Ada biaya yang dikenakan (resmi sesuai SK Rektor). Tidak harus yang bersangkutan, bisa saja secara kolektif. Cukup membawa sertifikat yang asli dan fotocopynya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya: Bagaimana bila ada kesalahan data di sertifikat pendidik? &lt;br /&gt;
Jawab: Bila terjadi hal demikian, bapak/ibu bisa datang ke kantor PSG dengan membawa pengantar dari kantor diknas/depag setempat, dan disertai dengan copy sertifikat dan bukti pendukung (misal SK, ijazah). Khusus untuk ralat bidang studi, kami harus meneliti apa isi portofolionya dan/atau tergabung pada rombel apa di PLPG. Kami akan teruskan permintaan ralat ini ke subag Pendidikan dan Evaluasi yang menangani pencetakan sertifikat pendidik. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-7456715779800199510?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/7456715779800199510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=7456715779800199510&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7456715779800199510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7456715779800199510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2010/02/seputar-sertifikasi.html' title='SEPUTAR SERTIFIKASI'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-758355312083754030</id><published>2010-01-26T12:20:00.006+07:00</published><updated>2010-07-08T12:48:00.610+07:00</updated><title type='text'>RAPAT GABUNGAN : ANGKAT GTT JADI CPNS</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; JP – Kabar gembira bagi Guru Tidak Tetap (GTT) se-Indonesia. Dalam rapat gabungan antara Komisi II, VIII, dan X DPR RI dengan Mendiknas M. Nuh, Menag Suryadharma Alli, Men PAN EE Mangindaan, dan Kepala BKN Edy Topo Ashari di gedung DPR Jakarta pada 25 Januari 2009 kemarin menghasilkan beberapa rekomendasi penting tentang nasib guru honorer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat gabungan tersebut adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.PENGANGKATAN SEMUA GURU HONORER MENJADI CPNS dengan memperhatikan status dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kesejahteraan guru bersangkutan. &lt;br /&gt;
Berdasar PP 48/2005 jo PP 43/2007 tentang Pengangkatan Honorer Menjadi CPNS, disebutkan salah satu syarat pengangkatan adalah memiliki kualifikasi S-1 dan maksimal usia 46 tahun. Berdasar rekomendasi ini jika seorang guru honorer/GTT secara status tidak dapat diangkat ( karena usia melebihi 46 tahun atau kualifikasi belum S-1) maka pengangkatan harus mempertimbangkan kesejahteraan guru tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.Status guru honorer harus segera dituntaskan/diangkat menjadi CPNS baik guru honorer yang dibayar melalui APBN/APBD maupun yang tidak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.Guru yang sudah menjadi CPNS harus segera diangkat menjadi PNS tanpa seleksi/prajabatan, cukup dengan verifikasi administrasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.Kesejahteraan guru menjadi tanggung jawab pemerintah daerah (gubernur, bupati, atau walikota)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diketahui bahwa berdasar PP 48 tahun 2005 yang diperbarui dengan PP 43 tahun 2007, sejak November 2005 pemerintah tidak diperkenankan lagi mengangkat tenaga honorer baru dan seharusnya permasalahan guru honorer ini harus tuntas (diangkat menjadi PNS) paling lama pada Desember 2009 (dengan syarat telah terdaftar dalam database pemerintah daerah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah yang berkembang di lapangan, tidak sedikit guru honorer (APBN/APBD maupun yang non- APBN/APBD) yang tidak mendapatkan informasi tentang database ini. Bahkan ada kesan database tenaga honorer ini ditutup-tutupi, sehingga sempat terjadi keruwetan. Pada 2005 – 2006  kemarin tidak sedikit database daerah yang dikirimkan ke pemerintah pusat melalui BKN menjadi “gemuk”, secara tiba – tiba menggelembung tanpa kendali, dan tidak sedikit pula kasus nama – nama yang tanpa melalui “prosesi” honorer tahu – tahu masuk dalam database.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk bapak-ibu guru GTT, baik yang di sekolah negeri maupun swasta, teruslah galang aksi memperjuangkan aspirasi karena saat ini DPR tengah membentuk Panja untuk mempercepat pengangkatan guru honorer menjadi CPNS. Rencananya Panja DPR ini berasal dari anggota Komisi II, VIII, dan X dengan masa kerja selama satu bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELAMAT BERJUANG !!! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-758355312083754030?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://suksesbersamasukarto.blogspot.com/2010/01/pemerintah-angkat-guru-honorer-menjadi.html' title='RAPAT GABUNGAN : ANGKAT GTT JADI CPNS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/758355312083754030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=758355312083754030&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/758355312083754030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/758355312083754030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2010/01/rapat-gabungan-angkat-gtt-jadi-cpns.html' title='RAPAT GABUNGAN : ANGKAT GTT JADI CPNS'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3988695614474894977</id><published>2010-01-03T07:00:00.002+07:00</published><updated>2010-01-27T12:48:06.406+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sertifikasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><title type='text'>SERTIFIKASI GURU</title><content type='html'>AKHIRNYA GATAL JUGA TANGAN INI UNTUK TIDAK MENULIS TENTANG SERTIFIKASI, SESUATU YANG AKHIR - AKHIR INI MENJADI FENOMENA BARU DI BUNIA PENDIDIKAN. NAMUN UNTUK TULISAN PERTAMA (sebagai pengantar saja) SENGAJA SAYA CUPLIK DARI WEB TEMAN GURU. LET'S GO !!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;PENILAIAN PORTOFOLIO: SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.suparlan.com/"&gt;Oleh Suparlan *)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Good education requires good teachers&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(International Conference on Education in Geneva).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Barang siapa berani mengajar, dia tak boleh berhenti belajar &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(John Cotton Dana)&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Tanpa guru yang dapat dijadikan andalannya, mustahil sesuatu sistem pendidikan berikut acara kurikulernya dapat mencapai hasil sebagaimana diharapkan. Maka prasyarat utama yang harus dipenuhi bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar yang menjamin optimalisasi hasil ‘pembelajaran’ secara kurikuler ialah tersedianya guru dengan kualifikasi dan kompetensi yang mampu memenuhi tuntutan tugasnya (Fuad Hassan, Kompas, 28 Feburari 2000).&lt;br /&gt;
Pendahuluan&lt;br /&gt;
Guru adalah komponen yang paling strategis dalam proses pendidikan. Jauh lebih statregis dibandingkan dengan dua komponen strategis lainnya, yaitu peserta didik dan kurikulum. Tanpa guru siapa yang akan melaksanakan proses pendidikan? Tanpa peserta didik siapa yang akan diajar? Dan tanpa kurikulum, apa yang akan diajarkan oleh guru kepada peserta didik? Dengan demikian ketiga komponen tersebut saling kait mengait tidak dapat dipisahkan. Proses pendidikan masih dapat berjalan walaupun katakanlah tidak dilengkapi dengan sarana yang memadai. Lebih dari itu, tanpa guru pendidikan tidak akan berjalan tanpa guru. Lebih dari itu, pendidikan yang baik memerlukan guru yang baik. Good education requires good teachers. Demikian pendapat kebanyakan peserta dan pakar pendidikan dalam sebuah acara konferensi internasional tentang pendidikan di Swiss (Bhaskara Rao, 2003: 28).&lt;br /&gt;
Ada dua aspek utama yang terkait dengan guru atau pendidik: (1) kualifikasi akademik dan kompetensinya, dan (2) tingkat kesejahterannya. Kedua aspek tersebut ibarat dua sisi mata uang, tidak akan dapat dipisahkan. Guru akan terpenuhi syaratnya sebagai profesi jika memiliki kedua aspek tersbut sekaligus. Tidak terpenuhinya salah satu dari kedua aspek tersebut akan mengurangi tingkat profesionalitas seorang guru.&lt;br /&gt;
Demikian Pentingkah Guru itu?&lt;br /&gt;
Berikut ini penulis sengaja menyebutkan sederetan pernyataan dari berbagai tokoh dam pakar pendidikan yang menjelaskan tentang pentingnya posisi guru dalam sistem pendidikan nasional ataupun dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
Pertama, mantan Mendikbud, Daoed Yoesoef, menyatakan secara filosofis bahwa ”di dunia ini hanya ada dua macam profesi, yakni guru dan profesi selain guru”. Sejalan dengan pendapat Daoed Yoesoef tersebut, Steinnett dan Guggett menyatakan bahwa “mengajar seringkali disebut sebagai ibu dari segala profesi”. &lt;br /&gt;
Kedua, Mantan Mendikbud, Wardiman Djojonegoro, menyatakan dengan tegas bahwa “berbicara masalah martabat guru, maka separuhnya adalah kesejahteraannya”.&lt;br /&gt;
Keempat, pendapat umum menyatakan bahwa ”tidak ada profesi yang lebih mulia dibanding mengajar. Guru yang hebat adalah artis yang hebat, tapi medianya bukanlah kanvas, melainkan jiwa manusia” (Anoname).&lt;br /&gt;
Kelima, Mohammad Surya, Ketua Umum organisasi guru terbesar di Indonesia, PGRI, menyatakan bahwa “semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan, pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan, yaitu guru. Hak-hak guru sebagai pribadi, pemangku profesi keguruan, anggota masyarakat, dan warga negara yang selama ini terabaikan, perlu mendapat prioritas dalam reformasi.&lt;br /&gt;
Keenam, Ki Supriyoko (Kompas, 10 Agustus 2006) mengingatkan tentang faktor kunci keberhasilan revitalisasi pendidikan, yaitu terletak pada guru. Diberikan satu contoh bahwa Ki Hajar Dewantara pernah mengajar di ruang dengan atap bocor, dinding miring, meja belajar seadanya di Taman Siswa, tetapi karena memang guru (pamong)-nya baik, maka hasil pendidikannya pun baik.&lt;br /&gt;
Daftar pandangan dan ungkapan tersebut akan jauh lebih panjang lagi sekiranya penulis mau meneruskan. Singkat kata pernyataan itu menunjukkan bukti dan indikasi bahwa guru memang memegang peranan penting. Guru tidak hanya penting sebagai seorang agen pembelajaran di sekolah, tetapi juga seorang agen pembaharusn untuk kehidupan manusia. Oleh karena itu, education is too important to be left only to government (United States Secretary of Education). Pendidikan terlalu penting untuk diabaikan begitu saja hanya oleh pemertintah. Life is education, and education is life. Kehidupan adalah pendidikan, dan pendidikan adalah kehidupan itu sendiri (Prof. Proopert Lodge). Jika Anda sempat membaca buku Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, maka Anda pasti masih akan dapat menyimpulkan bahwa betapa sebuah SD dan SMP Muhammadiyah di Belitung yang kondisinya akan ambruk masih dapat menghasilkan lulusan yang begitu dahsyat. Karena apa? Hanya karena kepala sekolah dan gurunya yang memiliki dedikasi dan komitmen yang tinggi sebagai pendidik.&lt;br /&gt;
Sertifikasi guru dalam jabatan yang sekarang ini sedang dilaksanakan dengan gencar, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mendorong agar para guru di negeri ini secara bertahap menjadi guru yang bekualitas dan sekaligus dapat meningkatkan kesejahterannya. Bentuk peningkatan kesejahteraan guru berupa pemberian tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bagi guru yang telah memiliki sertifikat pendidik (Pedoman Sertifikasi Guru Dalam Jabatan).&lt;br /&gt;
Apakah Guru itu Sebagai Profesi?&lt;br /&gt;
Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 telah menyebutkan dengan demikian jelas bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksnakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. Dengan kata lain, pendidik atau guru adalah sebagai profesi. Guru sebagai profesi di Indonesia secara formal telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, bertepatan dengan acara puncak peringatan Hari Guru Nasional XII, tanggal 2 Desember 2004.&lt;br /&gt;
Pasal 1 butir 1 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjelaskan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang muncul, apakah pekerjaan guru memang telah memenuhi syarat sebagai profesi? Ada dua pendapat agak mirip yang menjelaskan syarat-syarat guru sebagai profesi. Kedua pendapat tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.&lt;br /&gt;
Tabel: Perbandingan dua pandangan tentang syarat pekerjaan disebut sebagai profesi&lt;br /&gt;
&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;No.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sambas   Suryadi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;(Westby   Gybon, 1965)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dedi   Supriadi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Adanya pengakuan oleh masyarakat   dan pemerintah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mempunyai fungsi dan signifikansi   sosial karena diperlukan oleh masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memerlukan bidang ilmu pengetahuan   sebagai landasan teknik dan prosedur kerja yang unik dan berbeda dengan   bidang pekerjaan lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menuntuk adanya keterampilan atau   keahlian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memerlukan persiapan yang   sengaja&amp;nbsp; dan sistematis untuk mengerjakan pekerjaan tersebut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Untuk memperoleh keterampilan dan   keahlian tersebut didukung oleh disiplin ilmu tertentu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memiliki mekanisme untuk melakukan   seleksi secara efektif dan kompetitif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memiliki kode etik yang menjadi   pedoman bagi para anggotanya untuk melaksanakan tugas profesionalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mempunyai organisasi profesi untuk   melindungi kepentingan anggotanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 196.5pt;" valign="top" width="262"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sebagai konsekuensi dari proses   layanan profesional yang diberikan kepada masyarakat, mereka yang bertugas   dalam bidang pekerjaan tersebut berhak memperoleh imbalan finansial dengan   sistem penggajian yang memadai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Sumber: Suparlan, Guru Sebagai Profesi, 2006: 70 – 71.&lt;br /&gt;
Berdasarkan dua pandangan tersebut, maka tampak jelas bahwa guru memang sebagai profesi. Pertama, guru merupakan jenis pekerjaan yang memiliki fungsi dan signifikansi dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, bahkan masyarakat dan pemerintah (presiden) telah memberikan pengakuan secara formal bahwa bahwa guru sebagai profesi. Kedua, guru memang harus memiliki kemampuan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keahlian yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan dari institusi pendidikan yang telah terakreditasi. Oleh karena itu, maka guru harus mempunyai kualifikasi akademis dan kompetensi yang memadai. Ketiga, selain itu guru memiliki organisasi profesi dan kode etik profesi yang harus dipedomani dalam pelaksanaan tugas-tugas profesionalnya. Keempat, untuk mendukung kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan tugasnya dengan baik, maka guru atau pendidik berhak untuk memperoleh kesejahteraan yang memadai.&lt;br /&gt;
Apa Yang Dimaksud Guru Dalam Jabatan?&lt;br /&gt;
Yang dimaksud guru dalam jabatan adalah guru yang sedang melaksanakan tugas (on the job) mengajar dan mendidik, baik guru di lembaga pendidikan negeri maupun swasta, serta para guru yang mengajar di lembaga pendidikan yang berada di bawah pembinaan Depdiknas maupun Departemen Agama. Pengertian yang sama digunakan, misalnya untuk on the job training atau pelatihan bagi para guru yang masih aktif melaksanakan tugas profesionalnya sebagai pengajaar. Pengertian ini digunakan untuk membedakan dengan para calon guru yang sedang menuntut pendidikan prajabatan (preeducation) di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).&lt;br /&gt;
Kualifikasi, kompetensi, dan Sertifikasi &lt;br /&gt;
Bab IV Bagian Kesatu UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah menjelaskan tentang kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi guru sebagai berikut:&lt;br /&gt;
Pertama, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (pasal 8).&lt;br /&gt;
Kedua, kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat (pasal 9).&lt;br /&gt;
Ketiga, kompetensi guru sebagaimana meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (pasal 10).&lt;br /&gt;
Keempat, (1) sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan; (2) sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah; (3) sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel (pasal 11).&lt;br /&gt;
Kelima, setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu pasal 12).&lt;br /&gt;
Keenam, (1) pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat (pasal 12)&lt;br /&gt;
Tabel: Standar Kompetensi Guru&lt;br /&gt;
&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;No.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 100.5pt;" valign="top" width="134"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kompetensi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="padding: 0in; width: 291.75pt;" valign="top" width="389"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kompetensi   Inti Guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td rowspan="5" style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td rowspan="5" style="padding: 0in; width: 100.5pt;" valign="top" width="134"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kompetensi Pedagodik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menguasai karakteristik peserta   didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;intelektual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menguasai teori belajar dan   prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Mengembangkan kurikulum yang   terkait dengan mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menyelenggarakan pembelajaran yang   mendidik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memanfaatkan teknologi informasi   dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td rowspan="5" style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td rowspan="5" style="padding: 0in; width: 100.5pt;" valign="top" width="134"&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memfasilitasi pengembangan potensi   peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berkomunikasi secara efektif,   empatik, dan santun dengan peserta didik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menyelenggarakan penilaian dan   evaluasi proses dan hasil belajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Memanfaatkan hasil penilaian dan   evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Melakukan tindakan reflektif untuk   peningkatan kualitas pembelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td rowspan="5" style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td rowspan="5" style="padding: 0in; width: 100.5pt;" valign="top" width="134"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kompetensi Kepribadian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;11&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bertindak sesuai dengan norma   agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menampilkan diri sebagai pribadi   yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menampilkan diri sebagai pribadi   yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menunjukkan etos kerja, tanggung   jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menjunjung tinggi kode etik   profesi guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td rowspan="4" style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td rowspan="4" style="padding: 0in; width: 100.5pt;" valign="top" width="134"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kompetensi Sosial&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Bersikap inklusif, bertindak   objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama,   ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berkomunikasi secara efektif,   empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua,   dan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;18&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Beradaptasi di tempat bertugas di   seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;keragaman sosial budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berkomunikasi dengan komunitas   profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;IV&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 100.5pt;" valign="top" width="134"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kompetensi Profesional&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 22.5pt;" valign="top" width="30"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 268.5pt;" valign="top" width="358"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menguasai materi, struktur,   konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;yang diampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sumber: PP Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi&lt;br /&gt;
Apakah yang dimaksud sertifikasi guru?&lt;br /&gt;
Dalam Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Iandonesia Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan disebutkan bahwa “sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan”.&lt;br /&gt;
Apa Hakikat Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Terkait Dengan Standar Nasional Pendidikan?&lt;br /&gt;
Sertifikasi guru dalam jabatan pada hakikatnya merupakan penerapan standar pendidik dan tenaga kependidikan. Sebagaimana kita ketahui, pasal 2 ayat (1) PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan 8 standar nasional pendidikan, yakni (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Telah dijelaskan pula bahwa dalam Pasal 8 UU Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa  guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.  Dengan kata lain, guru merupakan profesi seperti profesi lain, misalnya dokter, akuntan, pengacara, apoteker, dan sebagainya. Pembuktian profesionalitas guru perlu dilakukan. Seorang akuntan harus mengikuti pendidikan profesi terlebih dahulu demikian juga untuk profesi lainnya, termasuk profesi guru.&lt;br /&gt;
Apa Manfaat Sertifikasi Guru?&lt;br /&gt;
Manfaat sertifikasi guru antara lain adalah (1) melindungi profesi guru dari praktek-praktek yang tidak kompeten (malpraktik), yang dapat merusak citra profesi guru, (2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional.&lt;br /&gt;
Apa Tujuan Sertifikasi Guru?&lt;br /&gt;
Sertifikasi guru mempunyai tujuan untuk: (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (2) meningkatkan profesionalitas guru, termasuk di dalamnya kesejahteraan guru, (3) meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, (4) meningkatkan martabat guru.&lt;br /&gt;
Siapa yang dapat mengikuti sertifikasi guru daru dalam jabatan?&lt;br /&gt;
Dalam Pasal 1 ayat (2) dinyatakan bahwa “sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diikuti oleh guru dalam jabatan yang telah memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV)”.&lt;br /&gt;
Lembaga apakah yang akan menyelenggarakan kegiatan sertifikasi guru dalam jabatan tersebut?&lt;br /&gt;
Lebih lanjut dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (3) dinyatakan dengan jelas bahwa “sertifikasi bagi guru dalam jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional”.&lt;br /&gt;
Bagaimana sertifikasi guru dalam jabatan tersebut dilaksanakan oleh asesor di LPTK?&lt;br /&gt;
Pasal 2 ayat (1) dalam Permendiknas tersebut menyatakan bahwa “sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh peserta didik” Selain itu, dalam ayat (2) dinyatakan dengan tegas bahwa “sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik” Dalam ayat (3) juga dinyatakan secara eksplisit bahwa “uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio”.&lt;br /&gt;
Proses pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;img alt="" src="file:///C:/DOCUME%7E1/d/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" /&gt;Bagan: Prosedur Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan&lt;br /&gt;
Bagan prosedur sertifikasi bagi guru dalam jabatan dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1.	Guru dalam jabatan, peserta sertifikasi, menyusun dokumen portofolio dengan mengacu Pedoman Penyusunan Portofolio Guru.&lt;br /&gt;
2.	Dokumen Portofolio yang telah disusun kemudian diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk diteruskan kepada Rayon LPTK Penyelengara sertifikasi untuk dinilai oleh asesor dari Rayon LPTK  tersebut.&lt;br /&gt;
3.	Rayon LPTK Penyelengara Sertifikasi terdiri atas LPTK Induk dan sejumlah LPTK Mitra.&lt;br /&gt;
4.	Apabila hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi dapat mencapai angka minimal kelulusan, maka dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat pendidik.&lt;br /&gt;
5.	Apabila hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi belum mencapai angka minimal kelulusan, maka berdasarkan hasil penilaian (skor) portofolio, Rayon LPTK merekomendasikan alternatif sebagai berikut. &lt;br /&gt;
o	Melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan profesi pendidik untuk melengkapi kekurangan portofolio.&lt;br /&gt;
o	Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (Diklat Profesi Guru atau DPG) yang diakhiri dengan ujian. Materi DPG mencakup empat kompetensi guru.&lt;br /&gt;
o	Lama pelaksanaan DPG diatur oleh LPTK peneyelenggara dengan memperhatikan skor hasil penilaian portofolio.&lt;br /&gt;
o	Apabila peserta lulus ujian DPG, maka peserta akan memperoleh Sertfikat Pendidik.&lt;br /&gt;
o	Bila tidak lulus, peserta diberi kesempatan ujian ulang dua kali, dengan tenggang waktu sekurang-kurangnya dua minggu. Apabila belum lulus juga, maka peserta diserahkan kembali ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;
6.	Untuk menjamin standardisasi prosedur dan mutu lulusan maka rambu-rambu mekanisme, materi, dan sistem ujian DPG dikembangkan oleh Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG).&lt;br /&gt;
7.	DPG dilaksanakan sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh KSG.&lt;br /&gt;
Dokumen apa saja yang harus dipersiapkan para guru yang akan mengikuti penilaian portofolio? &lt;br /&gt;
Dalam ayat selanjutnya, yakni ayat (4) disebutkan bahwa “penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang:&lt;br /&gt;
1.	kualifikasi akademik;&lt;br /&gt;
2.	pendidikan dan pelatihan;&lt;br /&gt;
3.	pengalaman mengajar;&lt;br /&gt;
4.	perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran;&lt;br /&gt;
5.	penilaian dari atasan dan pengawas; &lt;br /&gt;
6.	prestasi akademik; &lt;br /&gt;
7.	karya pengembangan profesi;&lt;br /&gt;
8.	keikutsertaan dalam forum ilmiah;&lt;br /&gt;
9.	pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan&lt;br /&gt;
10.	penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.&lt;br /&gt;
Untuk memudahkan kita untuk mengingat sepuluh dokomen tersebut, marilah kita membuat titian ingatan berupa singkatan atau akronim sebagai berikut, KP5K2P2, singkatan dari sepuluh persyaratan tersebut, atau dengan akronim memudahkan kita mengingat, misalnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;
•	KUA – kualifikasi akademik&lt;br /&gt;
•	DIKLAT – pendidikan dan pelatihan&lt;br /&gt;
•	LAMANJAR – pengalaman mengajar&lt;br /&gt;
•	RPP – perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran&lt;br /&gt;
•	NAP – penilaian dari atasan dan pengawas&lt;br /&gt;
•	PRESTASI – prestasi akademik&lt;br /&gt;
•	KARYA – karya pengembangan profesi&lt;br /&gt;
•	FORUM ILMIAH – keikutsertaan di bidang kependidikan dan sosial&lt;br /&gt;
•	LAMAN – pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial.&lt;br /&gt;
•	HARGA – Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.&lt;br /&gt;
Akronim tersebut dapat disingkat sebagai berikut: KUADIKLAT – LAMANJAR RPP NAP – PRESTASI KARYA FORUM ILMIAH – LAMAN HARGA. Sekali lagi 10 aspek yang akan dinilai dalam proses sertifikasi guru dalam jabatan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
Tabel: 10 Apek Penilaian Sertifikasi&lt;br /&gt;
&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;No.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aspek   Penilaian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Penjelasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dokumen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kualifikasi akademik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kualifikasi akademik S1 (gelar)   dan D4 (nongelar), baik dari dalam maupun luar negeri yang telah   dilegalisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ijazah S1 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sertifikat D4   Kualifikasi dari luar negeri dilegalisasi oleh Ditjen Dikti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pendidikan dan pelatihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Megengikuti pendidikan dan   pelatihan untuk peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;   Sertifikat/piagam/surat keterangan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang   telah dilegalisasi oleh atasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pengalaman mengajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pengalaman mengajar atau masa   kerja dalam melaksanakan tugas sebagai guru/pendidik dari pemerintah atau   penyelenggara pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; SK,   dilegalisasi oleh atasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;perencanaan dan pelaksanaan   pembelajaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Persiapan mengajar atau persiapan   dalam mengelola pembelajaran di dalam kelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; RP/SP/RPP yang   telah dilegalisasi oleh atasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Format penilaian dari atasan   (amplop tertutup)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Penilaian dari atasan dan pengawas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Penilaian dari kepala sekolah dan   pengawas terhadap kompetensi kepribadian dan sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Format   penilaian dari kepala sekolah dan pengawas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dilampirkan dalam amplop tertutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Prestasi akademik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Prestasi guru bidang keahlian   sebagai guru berupa karya akademik yang mendapat mengakuan dari   lembaga/panitia penyelenggara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;   Piagam/sertifikat/surat keterangan dalam kegiatan lomba bidang kependidikan   dan nonkependidikan atau dalam kegiatan profesional seperti instruktur, guru   inti, tutor, atau pembimbing kegiatan siswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Karya pengembangan profesi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Karya atau produk yang telah   dihasilkan oleh guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buku yang   telah diterbitkan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Artikel yang   telah dimuat dalam koran, majalah, jurnal, buletin, dan media publikasi lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Modul atau   diktat yang memuat materi pelajaran dalam satu tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Laporan   penelitian, baik perorangan atau kelompok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karya seni&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Diperlulan legalisasi atau surat   keterangan dari pejabat yang berwenang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keikutsertaan dalam forum ilmiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keikutsertaan menjadi pembicara,   panitia, atau peserta dalam forum ilmiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Makalah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;   Sertifikat/piagam/surat keterangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pengalaman organisasi di bidang   kependidikan dan sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menjadi pengurus (bukan hanya   sebagai anggota) dalam organisasi pendidikan dan sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai   pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketua jurusan,   kepala lab, kepala bengkel, kepala studio, ketua MBMP, dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 28.5pt;" valign="top" width="38"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 97.5pt;" valign="top" width="130"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Penghargaan yang relevan dengan   bidang pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 163.5pt;" valign="top" width="218"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Penghargaan yang diterima karena   dedikasinya sebagaiguru dengan kriteria kuantitatif (lama, hasil, lokasi)   atau kuantitatif (komitmen, etos kerja) dan relevansinya (dalam bidang atau   rumpun)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0in; width: 131.25pt;" valign="top" width="175"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;·&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;   Sertifikat/piagam/surat keterangan yang telah dilegalisasi oleh atasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Catatan:&lt;br /&gt;
•	Perlu diingatkan oleh para guru bahwa semua sertifikat/piagam/surat keterangan harus selalu dilegalisasi oleh atasan atau pejabat yang berwewenang.&lt;br /&gt;
•	Diperlukan kejujuran dan tanggung jawab akademik dalam melampirkan semua dokumen dan sertifikat/piagam/ surat keterangan tersebut.&lt;br /&gt;
•	Seharusnya setiap guru memiliki dua file untuk meyimpan arsip dokumen-dokumen tersebut. Satu file disimpan di rumah, dan satu file disimpan di kantor (sekolah).&lt;br /&gt;
Adakah Kritik Dan Masukan Terhadap Kebijakan Sertifikasi Guru?&lt;br /&gt;
Memang telah muncul beberapa kritik dari kalangan masyarakat, terutama masyarakat pendidikan, terhadap kebijakan serifikasi guru. Itu merupakan hal yang wajar dalam era demokrasi. Kritik tersebut sudah barang tentu akan menjadi masukan berharga bagi pemerintah. Beberapa kritik tersebut antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;
Pertama, kritik terhadap kinerja LPTK selama ini. Kinerja LPTK selama ini ternyata tidak atau kurang dapat menghasilkan lulusan yang kompeten, atau yang memiliki kompetensi yang terstandar. Oleh karena itu, ke depan LPTK mempunyai tantangan yang besar untuk dapat menghasilkan guru yang telah bersertifikat. Sertifikasi masih diperlukan untuk menentukan kenaikan jabatan guru.&lt;br /&gt;
Kedua, nasib guru senior yang belum memiliki kualifikasi akademis S1 atau D4. Satu hal yang sangat ironis terjadi jika seorang guru yunior S1 ternyata lulus sertifikasi. Sementara guru senior, yang notabene telah mengabdi selama lebih dari dua puluh tahun, tidak dapat mengikuti sertifikasi lantaran belum mempunyai kualifikasi S1. Padahal, kita banyak mengetahui proses pemerolehan kualifikasi oleh guru-guru yunir tersebut juga tidak sepenuhnya objektif. Hal ini dapat menimbulkan konflik intern di dalam sekolah yang akan menggangu penyelenggaraan pendidikan.&lt;br /&gt;
Ketiga, bagaimana sertifikasi untuk pengawas sekolah? Sebagaimana kita ketahui, pengawas sekolah  adalah guru-guru yang “super senior”. Tugas pengawas antara lain adalah untuk mengawasi kinerja para guru atau pendidik di daerahnya. Guru dan pengawas sekolah sama-sama sebagai tenaga atau jabatan fungsional, yang harus memperoleh perhatian yang sama dengan guru.&lt;br /&gt;
Keempat, praktik-praktik tidak jujur telah terjadi ketika guru mendokumentasikan protofolionya. Praktik “copy – paste” telah terjadi, misalnya sertifikat mengikuti seminar dan penataran, bahkan juga “copy – paste” karya tulis atau karya ilmiah yang harus dilampirkan. Beberapa praktik tidak terpuji tersebut telah ditemukan oleh asesor di beberapa LPTK. Sudah tentu upaya preventif akan lebih baik dibandingkan dengan upaya pengamanan secara kuratif. Oleh karena itu, sosialisasi tentang sertifikasi yang lebih gencar perlu dilakukan, agar semua pihak memahami kebijakan yang telah lama ditunggu-tunggu ini.&lt;br /&gt;
Refleksi&lt;br /&gt;
Makalah singkat ini ditulis untuk disampaikan dalam acara pelatihan sertifikasi yang diadakan oleh Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang bekerja sama dengan PGRI. Sebagai organisasi profesi guru terbesar di tanah air, kegiatan pelatihan seperti ini perlu lebih mendapatkan perhatian dari PGRI. Kebijakan sebesar sertifikasi ini memang harus dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak yang terkait secara sinergis, termasuk para guru sebagai agen kunci peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang ingin download seluk beluk sertifikasi &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/8328895/Sertifikasi.rar.html"&gt;DI SINI &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3988695614474894977?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.suparlan.com' title='SERTIFIKASI GURU'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/3988695614474894977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=3988695614474894977&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3988695614474894977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3988695614474894977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2010/01/sertifikasi-cak.html' title='SERTIFIKASI GURU'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3872421041149445501</id><published>2010-01-02T12:43:00.003+07:00</published><updated>2010-07-08T13:10:57.132+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PTK'/><title type='text'>PENELITIAN TINDAKAN KELAS</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Trianggulasi untuk Mengurangi Subjektivitas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Anda meningkatkan validitas PTK Anda? Tidak lain dengan meminimalkan subjektivitas melalui trianggulasi. Anda sebagai pelaku PTK dapat menggunakan metode ganda dan perspektif  kolaborator Anda untuk memperoleh gambaran kaya yang lebih objektif. Bentuk lain dari trianggulasi adalah: trianggulasi waktu, trianggulasi ruang, trianggulasi peneliti, dan trianggulasi teoretis (Burns, 1999: 164). Trianggulasi waktu dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dalam waktu yang berbeda, sedapat mungkin meliputi rentangan waktu tindakan dilaksanakan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin bahwa efek perilaku tertentu bukan hanya suatu kebetulan. Misalnya, data tentang proses pembelajaran dengan seperangkat teknik tertentu dapat dikumpulkan pada jam awal, tengah dan siang pada hari yang berbeda dan jumlah pengamatan yang memadai, katakanlah 4-5 kali. Trianggulasi peneliti dapat dilakukan dengan pengumpulan data yang sama  oleh beberapa  peneliti sampai diperoleh data yang relatif konstan. Misalnya, dua atau tiga peserta penelitian dapat mengamati proses pembelajaran yang sama dalam waktu yang sama pula. Trianggulasi ruang dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang sama di tempat yang berbeda. Dalam contoh proses pembelajaran bahasa Inggris di atas, ada dua atau tiga kelas yang dijadikan ajang penelitian yang sama dan data yang sama dikumpulkan dari kelas-kelas tersebut. Trianggulasi teoretis dapat dilakukan dengan memaknai gejala perilaku tertentu dengan dituntun oleh beberapa teori yang berbeda tetapi terkait. Misalnya, perilaku tertentu yang menyiratkan motivasi dapat ditinjau dari teori motivasi aliran yang berbeda: aliran behavioristik, kognitif, dan konstruktivis. &lt;br /&gt;
Reliabilitas&lt;br /&gt;
Reliabilitas data PTK Anda secara hakiki memang rendah. Mengapa? Karena situasi PTk terus berubah dan proses PTK bersifat transformatif tanpa kendali apapun (alami) sehingga sulit untuk mencapai tingkat reliabilitas yang tinggi, padahal tingkat reliabilitias tinggi hanya dapat dicapai dengan mengendalikan hampir seluruh aspek situasi yang dapat berubah (variabel) dan hal ini tidak mungkin atau tidak baik dilakukan dalam PTK. Mengapa tidak mungkin? Karena akan bertentangan dengan ciri khas penelitian tindakan itu sendiri, yang salah satunya adalah kontekstual/situasional dan terlokalisasi, dengan perubahan yang menjadi tujuannya. Penilaian peneliti menjadi salah satu tumpuan reliabilitas PTK. Cara-cara meyakinkan orang atas reliabilitas PTK termasuk: menyajikan (dalam lampiran)  data asli  seperti transkrip wawancara dan catatan lapangan (bila hasil penelitian dipublikasikan), menggunakan lebih dari satu sumber data untuk mendapatkan data yang sama dan kolaborasi dengan sejawat atau orang lain yang relevan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelebihan dan Kekurangan PTK&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PTK memiliki kelebihan berikut (Shumsky, 1982): (1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK; (2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat  reflektif/evaluatif dalam PTK; (3)            dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah; dan (4) meningkatnya kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK (silakan lihat Passow, Miles, dan Draper, 1985).&lt;br /&gt;
PTK Anda juga memiliki kelemahan: (1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada Anda sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis, (2)  rendahnya efisiensi waktu karena Anda  harus punya komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya sementara  Anda masih harus melakukan tugas rutin ; (3)  konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi  terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya dalam situasi tertentu, padahal tidak mudah untuk mendapatkan pemimimpin demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persyaratan Keberhasilan PTK&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar PTK berhasil, persyaratan berikut harus dipenuhi (Hodgkinson, 1988): (1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri; (2) kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru; (3) dorongan untuk mengemukakan gagasan baru; (4) waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan; (5) kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat; dan (6)pengetahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta  penelitian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian Tindakan Kolaboratif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kolaborasi atau kerja sama perlu dan penting dilakukan dalam PTK karena PTK yang dilakukan secara perorangan bertentangan dengan hakikat PTK itu sendiri (Burns, 1999). Beberapa butir penting tentang PTK kolaboratif  Kemmis dan McTaggart (1988: 5;  Hill &amp; Kerber, 1967, disitir oleh Cohen &amp; Manion, 1985, dalam Burns, 1999: 31): (1) penelitian tindakan yang sejati adalah penelitian tindakan kolaboratif, yaitu yang dilakukan oleh sekelompok peneliti melalui kerja sama dan kerja bersama, (2) penelitian kelompok tersebut dapat dilaksanakan melalui tindakan anggota kelompok perorangan yang diperiksa secara kritis melalui refleksi demokratik dan dialogis; (3) optimalisasi fungsi PTK kolaboratif dengan mencakup gagasan-gagasan dan harapan-harapan semua orang yang terlibat dalam situasi terkait; (4) pengaruh langsung hasil PTK pada Anda sebagai guru dan murid-murid Anda serta sekaligus pada situasi dan kondisi yang ada.&lt;br /&gt;
Kolaborasi atau kerja sama dalam melakukan penelitian tindakan dapat dilakukan dengan: mahasiswa; sejawat dalam jurusan/sekolah/lembaga yang sama; sejawat dari lembaga/sekolah lain;  sejawat dengan wilayah keahlian yang berbeda (misalnya antara guru dan  pendidik guru, antara guru dan peneliti; antara guru dan manajer); sejawat dalam disiplin ilmu yang berbeda (misalnya antara guru bahasa asing dan guru bahasa ibu); dan sejawat di negara lain (Wallace, 1998). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip-prinsip penelitian tindakan kolaboratif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga tahap PTK kolaboratif adalah: prakarsa, pelaksanaan, dan  diseminasi (Burns, 1999: 207-208). Butir-butir tentang prakarsa yang perlu dipertimbangkan dalam PTK Anda (Burns, 1999: 207): &lt;br /&gt;
1.      Sejauh dapat dilakukan, agenda PTK tindakan hendaknya ditarik dari kebutuhan-kebutuhan, kepedulian dan persyaratan yang diungkapkan oleh semua pihak Anda sendiri, sejawat, kepala sekolah, murid-murid, dan/atau orangtua murid) yang terlibat dalam konteks pembelajaran/kependidikan di kelas/sekolah Anda; &lt;br /&gt;
2.      PTK Anda hendaknya benar-benar memanfaatkan keterampilan, minat dan keterlibatan Anda sebagai guru dan sejawat;&lt;br /&gt;
3.      PTK Anda hendaknya terpusat pada masalah-masalah pembelajaran kelas Anda, yang ditemukan dalam kenyataan sehari-hari. Namun demikian, hasil PTK Anda daapt juga memberikan masukan untuk pengembangan teori pembelajaran bidang studi Anda;&lt;br /&gt;
4.      Metodologi PTK Anda hendaknya ditentukan dengan mempertimbangkan persoalan pembelajaran kelas Anda yang sedang diteliti, sumber daya yang ada dan murid-murid sebagai sasaran penelitian.&lt;br /&gt;
5.      PTK Anda hendaknya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi  secara kolaboratif. Tujuan, metode, pelaksanaan dan strategi evaluasi hendaknya Anda negosiasikan dengan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama penelitian Anda, sejawat, murid-murid, dan kepala sekolah (yang mungkin diperlukan dukungan kebijakannya).&lt;br /&gt;
6.      PTK Anda hendaknya bersifat antardisipliner, yaitu sedapat mungkin didukung oleh wawasan dan pengalaman orang-orang dari bidang-bidang lain yang relevan, seperti ilmu jiwa, antropologi, dan sosiologi serta budaya. Jadi Anda dapat mencari masukan dari teman-teman guru atau dosen LPTK yang relevan.&lt;br /&gt;
Dalam PTK, butir-butir pelaksanaan di bawah  harus dipertimbangkan  (Burns, 1999: 207-208):&lt;br /&gt;
1.      Anda sebagai pelaku PTK hendaknya berupaya memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Upayakan mendapatkan dari pemimpin dukungan dan bantuan secara terus menerus dalam tahap-tahap pelaksanaan, diseminasi, dan tindak-lanjut penelitiannya.&lt;br /&gt;
2.      PTK Anda selayaknya dilakukan dalam kelas sendiri.&lt;br /&gt;
3.      PTK Anda akan berjalan dengan baik jika terkait dengan program peningkatan guru dan pengembangan materi di sekolah atau wilayah sendiri.&lt;br /&gt;
4.      PTK Anda hendaknya dipadukan dengan komponen evaluasi.&lt;br /&gt;
Dalam tahap diseminasi PTK perlu dipertimbangkandua butir berikut (Burns, 1999: 208)&lt;br /&gt;
1.      Bentuk pelaporan hasil penelitian tindakan ditentukan oleh audiens sasaran. Jika audiens sasarannya adalah guru-guru bahasa Inggris di SD, misalnya, bentuk laporannya berbeda dengan jika audiens sasarannya adalah pendidik guru bahasa Inggris di universitas.&lt;br /&gt;
2.      Jaringan kerja dan mekanisme yang tersedia di dalam lembaga pendidikan Anda hendaknya digunakan untuk menyebarkan hasil penelitian terkait. Misalnya, penyebaran hasil penelitian dilakukan lewat simposium guru, sarasehan MGMP, atau seminar daerah. &lt;br /&gt;
Kelebihan  dan Kelemahan PTK Kolaboratif&lt;br /&gt;
Apa kelemahan dan kelebihan PTK? Kelebihannya seperti dikatakan Burns (1999: 13) sebagai berikut. Proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis. Proses tersebut mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang mereka pegang dalam kultur sosio-politik lembaga  tempat mereka bekerja. Proses kelompok dan tekanan kolektif  kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan praktik. Penelitian tindakan kolaboratif secara potensial lebih memberdayakan daripada penelitian tindakan yang dilakukan secara individu karena menawarkan kerangka kerja yang mantab untuk perubahan keseluruhan.&lt;br /&gt;
Selain itu, ada kelebihan lain dari PTK kolaboratif (Wallace, 1998: 209-210): (1) kedalaman dan cakupan, yang artinya makin banyak orang terlibat dalam proyek penelitian tindakan, makin banyak data dapat dikumpulkan, apakah dalam hal kedalaman  (misalnya studi kasus kelas bahasa Inggris) atau dalam hal cakupan (misalnya beberapa studi kasus suplementer; populasi yang lebih besar), atau dalam keduanya dan ini disebabkan makin banyak perspektif  yang digunakan akan makin intensif pemeriksaan terhadap data atau makin luas cakupan persoalan dalam hal tim peneliti saling berkolaborasi dalam meneliti kelasnya masing-masing; (2)  Validitas dan reliabilitas, yaitu keterlibatan orang lain akan mempermudah penyelidikan terhadap satu persoalan dari sudut yang berbeda, mungkin dengan menggunakan teknik penelitian yang berbeda (yaitu menggunakan trianggulasi); dan (3) Motivasi yang timbal lewat dinamika kelompok yang benar, di mana bekerja sebagai anggota tim lebih bersemangat daripada bekerja sendiri. &lt;br /&gt;
Kelemahan terbesar PTK kolaboratif  terkait dengan sulitnya mencapai keharmonisan kerjasama antara orang-orang yang berlatar belakang yang berbeda. Hal ini dapat dipecahkan dengan membicarakan aturan-aturan dasar (Wallace, 1998: 210), seperti yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang akan kita lakukan? Mengapa kita menangani masalah ini? (Apakah kita memiliki motivasi yang sama, atau motivasi yang berbeda?) Bagaimana kita akan melakukannya? (Siapa melakukan apa dan kapan?) Berapa banyak waktu masing-masing dari kita akan siap dihabiskan untuk keperluan ini? Berapa sering kita akan bertemu, di mana dan kapan? Apa hasil akhir yang diharapkan? (Suatu ceramah atau artikel; atau sekadar pengalaman yang sama?)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3872421041149445501?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/3872421041149445501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=3872421041149445501&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3872421041149445501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3872421041149445501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2010/01/penelitian-tindakan-kelas_02.html' title='PENELITIAN TINDAKAN KELAS'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3666207025784926291</id><published>2010-01-02T12:37:00.004+07:00</published><updated>2010-01-03T12:42:27.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PTK'/><title type='text'>PENELITIAN TINDAKAN KELAS</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Cambria Math";
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:1;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-format:other;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}
@font-face
	{font-family:Cambria;
	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:roman;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;}
@font-face
	{font-family:Calibri;
	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:swiss;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	margin-top:0in;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:10.0pt;
	margin-left:0in;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
h1
	{mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-link:"Heading 1 Char";
	mso-style-next:Normal;
	margin-top:24.0pt;
	margin-right:0in;
	margin-bottom:0in;
	margin-left:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	line-height:115%;
	mso-pagination:widow-orphan lines-together;
	page-break-after:avoid;
	mso-outline-level:1;
	font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	mso-font-kerning:0pt;}
a:link, span.MsoHyperlink
	{mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	color:blue;
	text-decoration:underline;
	text-underline:single;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
	{mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	color:purple;
	mso-themecolor:followedhyperlink;
	text-decoration:underline;
	text-underline:single;}
span.Heading1Char
	{mso-style-name:"Heading 1 Char";
	mso-style-priority:9;
	mso-style-unhide:no;
	mso-style-locked:yes;
	mso-style-link:"Heading 1";
	mso-ansi-font-size:14.0pt;
	mso-bidi-font-size:14.0pt;
	font-family:"Cambria","serif";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:major-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:major-fareast;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:major-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:major-bidi;
	color:#365F91;
	mso-themecolor:accent1;
	mso-themeshade:191;
	font-weight:bold;}
.MsoChpDefault
	{mso-style-type:export-only;
	mso-default-props:yes;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:Calibri;
	mso-fareast-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
	{mso-style-type:export-only;
	margin-bottom:10.0pt;
	line-height:115%;}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt; 
&lt;/style&gt;    &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Anda adalah guru yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik&amp;nbsp; manis maupun pahit, dalam mengajar. &lt;span lang="SV"&gt;Pengalaman manis dapat Anda rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin Anda sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dsb. Pasti Anda sudah melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari yang Anda inginkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan Anda masih ingin mengatasi masalah-masalah yang Anda temukan di kelas, bukan? Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan penelitian tindakan?&amp;nbsp; Mendengar kata ’penelitian’ mungkin Anda ingat pengalaman pahit ketika dulu meneliti untuk skripsi Anda karena harus mengembangkan instrumen yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke sana ke sini, harus terjun ke lapangan menemui responden, yang tidak selalu menyambut dengan ramah kedatangan Anda, harus&amp;nbsp; kecewa karena angket tidak semua dikembalikan, harus menganalisis data dan seirng tersandung masalah statistik, dan setelah analisis selesai, harus kecewa karena hasilnya tidak selalu siap dipraktikkan di dunia nyata.&amp;nbsp; dsb. Singkatnya, kegiatan penelitian tidak mudah karena pertanggungjawaban teoretisnya cukup berat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anda tidak perlu mengalami itu semua ketika Anda melakukan penelitian tindakan. Mengapa? Karena jenis penelitian ini memang berbeda dengan jenis penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para ilmuwan di kampus atau lembaga penelitian, penelitian tindakan layaknya dilakukan oleh para praktisi, termasuk Anda sebagai guru. Kalau jenis penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, penelitian tindakan ditujukan untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi penelitian tindakan adalah jenis penelitian yang cocok untuk para praktisi, termasuk guru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Mari kita bicarakan hal ikhwal tentang penelitian tindakan. Kalau Anda pernah mempelajarinya, pembicaraan ini berfungsi untuk menyegarkan kembali atau memperkaya apa yang telah Anda ketahui. Kalau Anda belum tahu banyak, lewat pembicaraan ini Anda akan mengenalnya, memahaminya, dan akhirnya berminat untuk melaksanakannya, untuk mencapai cita-cita Anda yang mulia, yaitu meningkatkan keberhasilan mendidik, mengajar dan melatih murid-murid Anda, yang akan memberikan sumbangan yang signifikan pada peningkatkan kualitas pendidikan nasional. Seperti tercantum&amp;nbsp; dalama UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, Pasal 3, pendidikan nasional befungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita, seperti dinyatakan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, upaya Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut lewat pengorbanan yang tidak sedikit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Mari kita menyamakan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas (PTK).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena penelitian tindakan cocok untuk para praktisi yang bergelut dengan dunia nyata, maka ia cocok untuk Anda sebagai guru. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anda mungkin heran kenapa istilah ’penelitian’ yang biasanya berkenaan dengan teori sekarang dijodohkan dengan istilah ’tindakan’. Keheranan Anda tidak berlebihan karena memang jenis penelitian ini tergolong muda dibandingkan dengan penelitian tradisional yang telah ratusan tahun dikembangkan. Uraian beberapa butir di bawah ini akan dapat membantu Anda dalam memahami apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan (Silakan baca Burns, 1999: 30; Kemmis &amp;amp; McTaggrt, 1982: 5; Reason &amp;amp; Bradbury, 2001: 1).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Penelitian tindakan merupakan intervensi&amp;nbsp; praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan kelas’ atau PTK. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apakah kegiatan penelitian tindakan tidak akan mengganggu proses pembelajaran? Sama sekali tidak, karena justru ia dilakukan dalam proses pembelajaran yang alami di kelas sesuai dengan jadwal. Kalau begitu, apakah penelitian tindakan kelas (PTK) bersifat situasional, kontekstual, berskala kecil, terlokalisasi, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja? Benar. Apakah berarti bahwa subyek dalam PTK termasuk murid-murid Anda? Benar. Lalu bagaimana cara untuk menjaga kualitas PTK? Apakah boleh bekerjasama dengan guru lain? Benar. Anda bisa melibatkan guru lain yang mengajar bidang pelajaran yang sama, yang akan berfungsi sebagai kolaborator Anda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Karena situasi kelas sangat dinamis dalam konteks kehidupan sekolah yang dinamis pula, apakah peneliti perlu menyesuaikan diri dengan dinamika yang ada? Benar. Anda memang dituntut untuk adaptif dan fleksibel agar kegiatan PTK Anda selaras dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu menjaga agar proses mengarah pada tercapainya perbaikan. Hal ini menuntut komitmen untuk berpartisipasi dan kerjasama dari semua orang yang terlibat, yang mampu melakukan evaluasi diri secara kontinyu sehingga perbaikan demi perbaikan, betapapun kecilnya, dapat diraih.&amp;nbsp; Kalau begitu, apakah diperlukan kerangka kerja agar masalah praktis dapat dipecahkan dalam situasi nyata? Benar. Tindakan dilaksanakan secara terencana, hasilnya direkam dan dianalisis dari waktu ke waktu untuk dijadikan landasan dalam melakukan modifikasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apa syarat-syarat agar PTK Anda berhasil?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk dapat meraih perubahan yang diinginkan melalui PTK, apakah ada syarat-syarat lain? Betul, silakan baca McNiff, Lomax dan Whitehead (2003). Pertama, Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut. Kedua, Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai. Ketiga, tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengetahuan teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan), berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri.&amp;nbsp; Keempat, tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan. Kelima, penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya. Keenam, Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi. Kutujuh, Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video and audio,&amp;nbsp; riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional. Kedelapan, Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3) teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu. Kesembilan,Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk: (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik. Kesepuluh, Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya&amp;nbsp; dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apa yang dapat Dicapai lewat Penelitian Tindakan Kelas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pertanyaan ini dapat diubah menjadi, ”Kapan Anda secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya: Ketika Anda ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawab Anda dan sekaligus ingin melibatkan murid-murid Anda dalam proses pembelajaran (lihat Cohen dan Manion, 1980). Dengan kata lain, Anda ingin meningkatkan praktik pembelajaran, pemahaman Anda terhadap praktik tersebut, dan situasi pembelajaran kelas Anda (Grundy &amp;amp; Kemmis, 1982: 84). Dapat dikatakan bahwa tujuan utama PTK adalah untuk mengubah perilaku pengajaran Anda, perilaku murid-murid Anda di kelas, dan/atau mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas Anda. Jadi, PTK lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai (Cohen &amp;amp; Manion, 1980: 211): (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam-jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran-diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami)&amp;nbsp; pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas. Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kriteria dalam Penelitian Tindakan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Benarkah PTk harus memenuhi kriteria tertentu? Benar.&amp;nbsp; Seperti layaknya penelitian, PTK harus memenuhi kriteria validitas. Akan tetapi, makna dasar validitas untuk penelitian tindakan condong ke makna dasar validitas dalam penelitian kualitatif, yaitu makna langsung dan lokal dari tindakan sebatas sudut pandang peserta penelitiannya (Erickson, 1986, disitir oleh&amp;nbsp; Burns, 1999). Jadi kredibilitas penafsiran peneliti dipandang lebih penting daripada validitas internal (Davis, 1995, disitir oleh Burns, 1999). Karena PTK bersifat transformatif, maka kriteria yang cocok adalah validitas demokratik, validitas hasil, validitas proses, validitas katalitik, dan validitas dialogis, yang harus dipenuhi dari awal sampai akhir penelitian, yaitu dari refleksi awal saat kesadaran akan kekurangan muncul sampai pelaporan hasil penelitiannya (Burns, 1999: 161-162, menyitir Anderson dkk,1994). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Validitas: demokratik, hasil, proses, katalitik, dan dialoguis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Validitas Demokratik berkenaan dengan kadar kekolaboratifan penelitian dan pencakupan berbagai suara. Dalam PTk, idealnya Anda, guru lain/pakar sebagai kolaborator, dan murid-murid Anda masing-masing diberi kesempatan menyuarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan serta dialaminya selama penelitian berlangsung. Pertanyaan kunci mencakup:&amp;nbsp; Apakah semua pemangku kepentingan (stakeholders) PTK (guru, kolaborator, administrator, mahasiswa, orang tua) dapat menawarkan pandangannya? Apakah solusi masalah di kelas Anda memberikan manfaat kepada mereka? &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Apakah solusinya memiliki relevansi atau keterterapan pada konteks kelas Anda? Semua pemangku kepentingan di atas diberi kesempatan dan/atau didorong lewat berbagai cara yang cocok dalam situasi budaya setempat untuk mengungkapkan pendapatnya, gagasan-gagasannya, dan sikapnya terhadap persoalan pembelajaran kelas Anda, yang fokusnya adalah pencarian solusi untuk peningkatan praktik dalam situasi pembelajaran kelas Anda. Misalnya, dalam kasus penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris, pada tahap refleksi awal guru-guru yang berkolaborasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala Sekolah, dan juga orang tua siswa, diberi kesempatan dan/atau didorong untuk mengungkapkan pandangan dan pendapatnya tentang situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah terkait. Hal ini dilakukan&amp;nbsp; untuk mencapai suatu kesepatakan bahwa memang ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan kekurangan tersebut perlu diperbaiki dalam konteks yang ada, atau juga disebut kesepakatan tentang latar belakang penelitian. Selanjutnya, diciptakan proses yang sama untuk mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah apa yang ada, yaitu identifikasi masalah, dan tentang masalah apa yang akan menjadi fokus penelitian atau pembatasan masalah penelitian. Kemudian, proses yang sama berlanjut untuk merumuskan pertanyaan penelitian atau merumuskan hipotesis tindakan yang akan menjadi dasar bagi perencanaan tindakan, yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua peserta penelitian untuk mengungkapkan pandangan dan pendapat serta gagasan-gagasannya. Proses yang mendorong setiap peserta penelitian untuk mengungkapkan atau menyuarakan pandangan, pendapat, dan gagasannya ini diciptakan sepanjang penelitian berlangsung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Validitas Hasil&amp;nbsp; mengandung konsep bahwa tindakan kelas Anda membawa hasil yang sukses di dalam konteks PTK Anda. Hasil yang paling efektif tidak hanya melibatkan solusi masalah tetapi juga meletakkan kembali masalah ke dalam suatu kerangka sedemikian rupa sehingga melahirkan pertanyaan baru. Hal ini tergambar dalam siklus penelitian pada Gambar 1 di bawah, di mana ketika dilakukan refleksi pada akhir tindakan pemberian tugas yang menekankan kegiatan menggunakan bahasa Inggris lewat tugas ‘information gap’, ditemukan bahwa hanya sebagian kecil siswa menjadi aktif dan sebagian besar siswa merasa takut salah, cemas, dan malu berbicara. Maka timbul pertanyaan baru, ‘Apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi agar siswa tidak takut salah, tidak cemas, dan tidak malu sehingga dengan suka rela aktif melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran?’ Hal ini menggambarkan bahwa pertanyaan baru timbul pada akhir suatu&amp;nbsp; tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan, begitu seterusnya sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap, berkesinambungan tidak pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi. (Mohon dicermati uraian masing-masing tahap dan kesinambungan masalah yang timbul). Validitas hasil juga tergantung pada validitas proses pelaksanaan penelitian, yang merupakan kriteria berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Validitas Proses berkenaan dengan ‘keterpercayaan’ dan ‘kompetensi’, yang dapat dipenuhi dengan menjawab sederet pertanyaan berikut: Mungkinkah menentukan seberapa memadai proses pelaksanaan PTK Anda? Misalnya, apakah Anda dan kolaborator Anda mampu terus belajar dari proses tindakan tersebut? Artinya, Anda dan kolaborator secara terus menerus dapat mengkritisi diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga dapat melihat kekurangannya dan segera berupaya memperbaikinya. Apakah peristiwa atau perilaku dipandang dari perspektif yang berbeda dan melalui sumber data yang berbeda agar terjaga dari ancaman penafsiran yang ‘simplistik’ atau ‘rancu’?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang disebut di atas, para peneliti dapat menentukan indikator kelas bahasa Inggris yang aktif, mungkin dengan menghitung berapa siswa yang aktif terlibat belajar menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi lewat tugas-tugas yang diberikan guru, dan berapa banyak bahasa Inggris yang diproduksi siswa, yang bisa dihitung dari jumlah kata/kalimat yang diproduksi dan lama waktu yang digunakan siswa untuk memproduksinya, serta adanya upaya guru memfasilitasi pemelajaran siswa. Kemudian jika keaktifan siswa terlalu rendah yang tercermin dalam sedikitnya ungkapan yang diproduksi, guru secara kritis merefleksi bersama kolaborator untuk mencari sebab-sebabnya dan menentukan cara-cara mengatasinya. Kalau diperlukan, siswa yang tidak aktif didorong untuk menyuarakan apa yang dirasakan sehingga mereka tidak mau aktif dan siswa yang aktif diminta mengungkapkan mengapa mereka aktif. Perlu juga ditemukan apakah ada perubahan pada diri siswa sesuai dengan indikator bahwa para siswa berubah lewat tindakan pertama berupa pemberian tugas ‘information gap’ dan tindakan kedua berupa pembelakuan kriteria penilaian, dan perubahan pada diri guru dari peran pemberi pengetahuan ke peran fasilitator dan penolong. Begitu seterusnya sehingga pemantauan terhadap perubahan hendaknya dilakukan secara cermat dan disimpulkan lewat dialog reflektif yang demokratik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perlu dicatat bahwa kompetensi peneliti dalam bidang terkait sangat menentukan kualitas proses yang diinginkan dan tingkat kemampuan untuk melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan. Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, misalnya, kualitas proses akan sangat ditentukan oleh&amp;nbsp; wawasan, pengetahuan dan pemahaman sejati peneliti tentang (1) hakikat kompetensi komunikatif, (2) pembelajaran bahasa yang komunikatif&amp;nbsp; yang mencakup pendekatan komunikatif bersama metodologi dan teknik-tekniknya, dan (3) karakteristik siswanya (intelegensi, gaya belajar, variasi kognitif, kepribadian, motivasi, tingkat perkembangan/pemelajaran) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa asing. Jika wawasan, pengetahuan dan pemahaman tersebut kuat, maka peneliti akan dapat dengan lebih mudah menentukan perilaku-perilaku mana yang menunjang tercapainya perubahan yang diinginkan dengan indikator yang tepat, dan juga perilaku-perilaku mana yang menghambatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Namun demikian, hal ini masih harus didukung dengan kemampuan untuk mengumpulkan data, misalnya melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan dan harian. Dalam mengamati, tim peneliti dituntut untuk dapat bertindak seobjektif mungkin dalam memotret apa yang terjadi. Artinya, selama mengamati perhatiannya terfokus pada gejala yang dapat ditangkap lewat pancainderanya saja, yaitu apa yang didengar, dilihat, diraba (jika ada), dikecap (jika ada), dan tercium, yang terjadi pada semua peserta penelitian, dalam kasus di atas pada peneliti, guru dan siswa. Dalam pengamatan tersebut harus dijaga agar jangan sampai peneliti melakukan penilaian terhadap apa yang terjadi. Seperti telah diuraikan di depan, perlu dijaga agar tidak terjadi penyampuradukan antara deskripsi dan penafsiran. Kemudian, diperlukan kompetensi lain untuk membuat catatan lapangan dan harian tentang apa yang terjadi. Akan lebih baik jika para peneliti merekamnya&amp;nbsp; dengan kaset audio atau audio-visual sehingga catatan lapangan dapat lengkap. Singkatnya, kompetensi peneliti dalam bidang yang diteliti dan dalam pengumpulan data lewat pengamatan partisipan sangat menentukan kualitas proses tindakan dan pengumpulan data tentang proses tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;Validitas Katalitik terkait dengan kadar pemahaman yang Anda capai realitas kehidupan kelas Anda dan cara mengelola perubahan di dalamnya, termasuk perubahan pemahaman Anda dan murid-murid terhadap peran masing-masing dan tindakan yang diambil sebagai akibat dari perubahan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, validitas katalitik dapat dilihat dari segi peningkatan pemahaman guru terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat dan factor-faktor yang memfasilitasi pembelajaran. Misalnya faktor-faktor kepribadian (lihat Brown, 2000) seperti rasa takut salah dan malu melahirkan inhibition dan&amp;nbsp; kecemasan. Sebaliknya, upaya-upaya guru untuk mengorangkan siswa dengan mempertimbangkan pikiran dan perasaan serta mengapresiasi usaha belajarnya merupakan faktor positif yang memfasilitasi proses pembelajaran. Selain itu, validitas katalitik dapat juga ditunjukkan dalam peningkatan pemahaman terhadap peran baru yang mesti dijalani guru dalam&amp;nbsp; proses pembelajaran komunikatif. Peran baru tersebut mencakup peran fasilitator dan peran penolong serta peran pemantau kinerja. Validitas katalitik juga tercermin dalam adanya peningkatan pemahaman tentang perlunya menjaga agar hasil tindakan yang dilaksanakan tetap memotivasi semua yang terlibat untuk meningkatkan diri secara stabil alami dan berkelanjutan. Semua upaya memenuhi tuntutan validitas katalitik ini dilakukan&amp;nbsp; melalui siklus perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Validitas Dialogik sejajar dengan proses review sejawat yang umum dipakai dalam penelitian akademik. Secara khas, nilai atau kebaikan penelitian dipantau melalui tinjauan sejawat untuk publikasi dalam jurnal akademik. Sama halnya, review sejawat dalam PTK berarti dialog dengan guru-guru lain, bisa lewat sarasehan atau dialog reflektif dengan ‘teman yang kritis’ atau&amp;nbsp; pelaku PTK lainnya, yang semuanya dapat bertindak sebagai ‘jaksa tanpa kompromi’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kriteria validitas dialogis ini dapat juga mulai dipenuhi ketika penelitian masih berlangsung, yaitu secara beriringan dengan pemenuhan kriteria demokratik. Yaitu, setelah seorang peserta mengungkapkan pandangan, pendapat, dan/atau gagasannya, dia akan meminta peserta lain untuk menanggapinya secara kritis sehingga terjadi dialog&amp;nbsp; kritis atau reflektif. Dengan demikian, kecenderungan untuk terlalu subjektif dan simplistik akan dapat dikurangi sampai sekecil mungkin. Untuk memperkuat validitas dialogik, seperti telah disebut di atas, proses yang sama dilakukan dengan sejawat peneliti tindakan lainnya, yang jika memerlukan, diijinkan untuk memeriksa semua data mentah yang terkait dengan yang sedang dikritisi. (BERSAMBUNG)&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3666207025784926291?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/3666207025784926291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=3666207025784926291&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3666207025784926291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3666207025784926291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2010/01/penelitian-tindakan-kelas.html' title='PENELITIAN TINDAKAN KELAS'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-554178104515832767</id><published>2009-12-26T19:53:00.000+07:00</published><updated>2009-12-26T19:53:28.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>PEMBELAJARAN TEMATIK 2</title><content type='html'>Pembelajaran Tematik merupakan pembelajaran bermakna bagi siswa. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. Oleh karena itu, guru harus merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual yang menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. &lt;br /&gt;
Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan, selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik disekolah dasar akan sangat membantu siswa, hal ini dilihat dari tahap perkembangan siswa yang, masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan.&lt;br /&gt;
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa, Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang emnjadi pembicaraan, Dengan tema diharapkan akan memberikan keuntungan, diantaranya :&lt;br /&gt;
1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.&lt;br /&gt;
2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama.&lt;br /&gt;
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.&lt;br /&gt;
4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.&lt;br /&gt;
5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan maka belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.&lt;br /&gt;
6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk memgembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain.&lt;br /&gt;
7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan dapat dipersiapkan sekaligus diberikan dalam dua atau tiga kali pertemuan, sedangkan selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial dan pengayaan.&lt;br /&gt;
Kelebihan dan kelemahan pembelajaran tematik &lt;br /&gt;
Menurut Kunandar (2007) pembelajaran tematik memiliki kelebihan yaitu :&lt;br /&gt;
1. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.&lt;br /&gt;
2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan  tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.&lt;br /&gt;
3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.&lt;br /&gt;
4. Mengembangkan keterampilan berfikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi.&lt;br /&gt;
5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama.&lt;br /&gt;
6. Memiliki sikap toleransi komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.&lt;br /&gt;
7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.&lt;br /&gt;
Selain memiliki kelebihan pembelajaran tematik juga memilki kelemahan, adapun kelemahan pembelajaran tematik terjadi jika dilakukan oleh guru tunggal, Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan materi pokok setiap mata pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik ada hal-hal yang perlu dilakukan, beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan seperti berikut :&lt;br /&gt;
A. Pemetaan Kompetensi Dasar &lt;br /&gt;
Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standart kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah : &lt;br /&gt;
1. Penjabaran standart kompetensi dan kompetensi dasar kedalam indikator&lt;br /&gt;
• Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal berikut :Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.&lt;br /&gt;
• Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.&lt;br /&gt;
• Dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan dapat diamati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Menentukan tema&lt;br /&gt;
Dalam menentukan tema yang bermakna, kita harus memperhatikan dan mempertimbangkan pemikiran konseptual, pengembangan keterampilan dan sikap, sumber belajar, hasil belajar yang terukur dan terbukti, kesinambungan tema, kebutuhan siswa, keseimbangan pemilihan tema, serta aksi nyata, antara lain : &lt;br /&gt;
• Pemikiran konseptual, tema yang baik tidak hanya memberikan fakta-fakta kepada siswa. Tema yang baik bisa mengajak siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;
• Pengembangan keterampilan dan sikap. apakah tema yang sudah disepakati bisa mengembangkan keterampilan siswa. Misalnya, keterampilan berfikir, berkomunikasi, sosial, eksplorasi, mengorganisasi, dan pengembangan diri. Pembentukan sikap juga harus bisa di akomodasi dalam pilihan tema, seperti sikap menghargai, percaya diri, kerja sama, komitmen, kreativitas, rasa ingin tahu, berempati, antusias, mandiri, jujur, menghormati dan toleransi.&lt;br /&gt;
• Kesinambungan Tema. Kath Murdock (1998) dalam bukunya Clasroom Connection-Strategies for Integrated Learning menjelaskan bahwa tema yang baik bisa mengakomodasi pengetahuan awal yang dimiliki siswa sebelum belajar tentang sesuatu yang baru. Pengetahuan awal itu tentu sudah dipelajari siswa sebelumnya.&lt;br /&gt;
• Materi Belajar Utama dan Tambahan. Materi dan sumber pembelajaran tematik biasa kita bagi menjadi dua sumber dan materi, yaitu utama dan tambahan. Contoh sumber atau materi belajar utama adalah para ahli atau orang-orang yang mempunyai profesi atau kompetensi dasar dalam bidang terentu, tempat-tempat yang bisa dipelajari, suasana belajar didalam kelas, lingkungan, komunitas, dan kesenian. Sedangkan musik, materi audio visual, literature, progam computer, dan internet adalah sumber materi pembelajaran tambahan bagi siswa. Dengan demikian, pemlihan tema harus juga memperhatikan kesediaan kedua sumber belajar itu.&lt;br /&gt;
• Terukur dan Terbukti, Guru juga perlu memperhatikan hasil pembelajaran apa yang akan siswa capai dalam pembelajaran tematik. Apa yang bisa siswa kerjakan dalam proses pembelajaran tematik. Perlu juga menunujukkan bukti-bukti itulah yang dinilai guru dan dicatat sebagai bukti bagaimana siswa menguasai tema yang diajarkan. Yang pada akhirnya akan dijadikan bahan evaluasi dan laporan kepada orang tua siswa.&lt;br /&gt;
• Kebutuhan Siswa, dalam memilih tema, guru perlu memperhatikan kebutuhan siswa. Apakah tema yang kita pilih bisa menjawab kebutuhan siswa. secara kognitif, Gardner (2007 ) dalam bukunya Five Minds For The Future menyebutkan bahwa manusia pada era informasi ini harus dibekali lima cara berfikir, yaitu : pikiran yang terlatih, terampil, dan disiplin, pikir mensintesis; pikiran mencipta; pikiran merespek, dan pikiran etis. Apakah tema yang dipilih sudah bisa membekali siswa dengan lima cara berfikir untuk masa depan. Kebutuhan siswa yang lain bisa juga dilihat melalui perkembangan psikologi (imajinasi), perkembangan motorik, dan perkembangan kebahasaan siswa.&lt;br /&gt;
• Keseimbangan Pemilihan Tema. Seperti telah dijelaskan diatas bahwa pembelajaran yang cocok dengan pembelajaran terpadu adalah pembelajaran tematik. Dalam satu tahun pembelajaran biasanya siswa bisa mempelajari 5-6 tema. Para guru hendaknya bisa memilih tema yang bisa mengakomodasi mata pelajaran bahasa, ilmu sosial, lingkungan, kesehatan, dan sains saja, tetapi tema-tema lain yang bervariasi.&lt;br /&gt;
• Aksi Nyata. Pembelajaran tematik hendaknya tidak hanya mengembangkan pengetahuhan dan sikap siswa, namun juga bisa membimbing siswa untuk melakukan aksi yang bermanfaat. Aksi yang dilakukan siswa akan memperkaya siswa dengan pengetahuan lain serta memberikan dampak bagi kehidupan orang lain dan lingkungan dimana siswa hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Identifikasi dan analisis standart kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator.&lt;br /&gt;
Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Menetapkan Jaringan Tema&lt;br /&gt;
Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu.&lt;br /&gt;
C. Penyusunan Silabus&lt;br /&gt;
Hasil seluruh proses yang dilakukan pada tahap-tahap sebelumya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus.&lt;br /&gt;
D. Penyusunan Rencana Pembelajaran&lt;br /&gt;
Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.&lt;br /&gt;
Setelah tahap persiapan dilakukan, maka selanjutnya akan dipaparkan tahap pelaksanaan pembalajaran terpadu. Adapun tahap pelaksanaan pembelajarannya meliputi :&lt;br /&gt;
a. Kegiatan Pendahuluan / awal&lt;br /&gt;
Pada tahap ini dapat dilakukan panggilan terhadap anak tentang tema yang disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah, bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan dan menyanyi.&lt;br /&gt;
b. Kegiatan inti&lt;br /&gt;
Kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis hitung. Penyajian bahan pembelajaran dialakukan dengan menggunakan strategi / metode yang bervariasi dan dapat dilakuakn secara klaksikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.&lt;br /&gt;
c. Kegiatan penutup&lt;br /&gt;
Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatn penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan atau mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomime, pesan-pesan moral, musik / apresiasi musik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaturan jadwal pelajaran &lt;br /&gt;
Untuk memudahkan administrasi disekolah terutama dalam penjadwalan. Guru bersama dengan guru mata pelajaran lain ( yang tidak dipadukan ) perlu bersama-sama menyusun jadwal pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasi Pembelajaran Tematik&lt;br /&gt;
Dalam implementasi pembelajaran tematik disekolah dasar mempunyai implikasi yang mencakup :&lt;br /&gt;
• Implikasi bagi guru&lt;br /&gt;
Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreaktif baik dalam menyiapkan pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan, dan utuh.&lt;br /&gt;
• Implikasi bagi siswa&lt;br /&gt;
1.Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya yang dimungkinkan untuk bekerja, baik secara individual, pasangan kelompok kecil, maupun klasikal.&lt;br /&gt;
2.Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi dan aktif.&lt;br /&gt;
• Implikasi terhadap sarana, prasarana,sumber balajar dan media.&lt;br /&gt;
1.Pelaksanaan pembelajaran ini memerlukan berbagai prasarana dan prasarana belajar,&lt;br /&gt;
2.Pembelajaran ini perlu memanfaatkan bebagai sumber balajar, baik yang didesain secara khusus maupun yang tersedia dilingkungan,&lt;br /&gt;
3.Pembeajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran bervariasi dan&lt;br /&gt;
4.Pembelajaran ini masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada atau bila memungkinkan untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar terintegrasi. &lt;br /&gt;
• Implikasi terhadap pengaturan ruangan.&lt;br /&gt;
1.Ruang perlu ditata sesuai tema yang dilaksanakan.&lt;br /&gt;
2.Susunan bangku bisa berubah-ubah.&lt;br /&gt;
3.Perta didik tidak harus selalu harya duduk dikursi, tetapi dapat duduk ditikar atu dikarpet.&lt;br /&gt;
4.Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik didalam maupun diruangan.&lt;br /&gt;
5.Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber balajar.&lt;br /&gt;
6.Alat, sarana, sumber belajar hendaknya dikelola dengan baik. &lt;br /&gt;
• Implikasi terhadap pemilihan metode&lt;br /&gt;
Pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode, misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, dan bercakap-cakap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-554178104515832767?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/554178104515832767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=554178104515832767&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/554178104515832767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/554178104515832767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/12/pembelajaran-tematik-2.html' title='PEMBELAJARAN TEMATIK 2'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3451727647228277359</id><published>2009-12-19T19:53:00.000+07:00</published><updated>2009-12-19T19:53:21.905+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>PEMBELAJARAN TEMATIK</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cd%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--
&lt;/style&gt;Banyak model pembelajaran yang sudah diterapkan di dunia pendidikan kita, mulai dari model pembelajaran yang berpegang pada teori Behavioristik yang lebih menitikberatkan pada adanya stimulus respons, sehingga pembelajar bersifat pasif semacam ceramah ataupun modelling ; pembelajaran yang berpegang pada teori Kognitif yang terdiri atas tahap i) asimilasi (proses penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki individu siswa), ii) akomodasi (penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru), dan iii) equilibrasi (penyesuaian berkesinambungan antara proses asimilasi dan akomodasi) ; dan pembelajaran yang berpegang pada teori konstruktivistik yang mengedepankan adanya proses konstruksi manusia melelui interaksinya dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan yang berperan membentuk pengetahuan.
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kebudayaan barat yang lebih mengagungkan analisa logika membuat model – model pembelajaran terkotak – kotak dan lebih condong pada unsur kognitif tanpa menyentuh unsus – unsur afektif dan psikomotor. Barulah beberapa dekade ini ketiga unsur tersebut berusaha ditampilkan secara sinergis. Namun itupun hanya terbatas pada hal – hal terukur saja, yang lagi – lagi hanya bermuara pada kemampuan logika.
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pembelajaran terhadap suatu masalah hanya dititikberatkan pada satu bidang ilmu saja. Sebagai contoh, ketika kita membahas materi tentang rekayasa genetika, maka pembahasan cenderung hanya terfokus pada ilmu biologi saja. Kenyataan di lapanagan/dunia nyata, suatu hasil teknologi utamanya rekayasa genetika, mungkin pada saat pertama ditemukan dianggap sebagai suatu pemecahan terhadap berbagai masalah kemasyarakatan saat itu. Namun seiring perjalanan waktu, terbukti rekayasa genetika tersebut justru menimbulkan suatu permasalahan baru yang mungkin belum diperhitungkan saat itu. 
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Saat ini film Jurassic Park mungkin hanya suatu khayalan ilmiah belaka, namun bukan mustahil jika rekayasa genetika terus dikembangkan tanpa mempertimbangkan faktor – faktor lain, sosial misalnya, khayalan tersebut bisa menjadi kenyataan. Contoh gampang, adanya teknik “pejantan mandul” pada hama wereng. Perhitungan ilmiahnya/logika : jika “pejantan – pejantan mandul” ini dilepas ke alam dan menang bersaing dengan pejantan sejenis yang fertil dalam perkawinan, maka perlahan hama wereng akan berkurang secara “alami”. Namun terbayangkah seandainya jumlah pejantan mandul yang dilepas melebihi batas jumlah pejantan fertil ? Apa yang terjadi jika wereng betul – betul musnah ? Bagaimana dengan organisme lain yang menjadikan wereng sebagai makanan utama ? Bagaimana pula nasib organisme yang makanan pokoknya adalah predator wereng, dan seterusnya……dimulailah proses kiamat itu.
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang tidak hanya berkutat pada satu bidang ilmu saja, namun juga melibatkan kemungkinan – kemungkinan lain berdasarkan pada pijakan ilmu – ilmu yang lain. Dan itulah pembelajaran tematik. Memang tidak ada suatu model/metode pembelajaran yang paling bagus, namun setidaknya pembelajaran tematik hadir untuk meminimalkan terjadinya kesalahan jika suatu masalah hanya didasarkan pada satu bidang ilmu saja.
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3451727647228277359?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/tematik.pdf' title='PEMBELAJARAN TEMATIK'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/3451727647228277359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=3451727647228277359&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3451727647228277359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3451727647228277359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/12/pembelajaran-tematik.html' title='PEMBELAJARAN TEMATIK'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3227739500554555817</id><published>2009-09-19T18:29:00.000+07:00</published><updated>2009-09-19T18:29:28.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><title type='text'>SELAMAT IDUL FITRI 1430 H</title><content type='html'>"walau kita kadang menganggap remeh setiap kata dan guyonan&lt;br /&gt;
walau kita kadang tidak menggubris kata ejek dan cemooh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
namun&lt;br /&gt;
dalam hati kecil ini selalu terucap&lt;br /&gt;
"itu salah...itu khilaf"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
rasanya tak pantas berharap terlalu banyak&lt;br /&gt;
karena bibir ini telah biasa berdusta&lt;br /&gt;
karena lidah ini telah penuh menghujat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
namun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengharap setitik embun itu tetap hadir di setiap subuh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
maka&lt;br /&gt;
izinkan&lt;br /&gt;
kepala tertunduk tangan menengadah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
= MINAL AIDIN WAL FAIDZIN =&lt;br /&gt;
mohon ma'af lahir dan batin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
taqoballallah minna waminkum&lt;br /&gt;
taqobbal ya karim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI&lt;br /&gt;
1 SYAWAL 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3227739500554555817?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/3227739500554555817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=3227739500554555817&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3227739500554555817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3227739500554555817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/09/selamat-idul-fitri-1430-h.html' title='SELAMAT IDUL FITRI 1430 H'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3951805894104379731</id><published>2009-07-05T19:21:00.005+07:00</published><updated>2009-07-05T19:51:34.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='multiple intelligence'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips dan trik'/><title type='text'>Belajar yang Menyenangkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Belajar lagi, belajar lagi...bosan ahh &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/102.gif" alt="tension" title="tension" /&gt;”, gerutu sebagian besar anak-anak saat disuruh belajar. Biasanya mereka juga tidak langsung menurut bila disuruh belajar, tapi berusaha menghindar dengan berbagai alasan. Mereka lebih tertarik untuk bermain atau menonton Doraemon atau mengikuti berbagai kegiatan lain daripada harus belajar. Bukan hanya ini saja kesulitan yang dihadapi orangtua. Sejak pagi hari orangtua sudah cukup dibuat repot saat membangunkan anak-anak untuk sekolah, tugas yang barangkali lebih sulit daripada pekerjaan di kantor.

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya ingat pengalaman saya sendiri semasih kecil dulu &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/9.gif" alt="malu" title="malu" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/User/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;, orangtua harus membangunkan saya berulang kali hingga saya benar-benar beranjak dari tempat tidur. Karena harus mengantri kamar mandi, sambil menunggu biasanya saya tertidur lagi. Kadang-kadang dalam keadaan baru bangun kesadaran masih belum penuh sehingga gerakan pun serba lambat, sedangkan ibu dalam kepanikannya harus mengurus banyak hal, seperti menyiapkan sarapan dan bekal untuk suami dan anak-anak serta berbagai hal kecil lainnya. Harus diakui bahwa tugas membangunkan anak untuk sekolah paling banyak menyita waktu, energi, dan emosi orangtua.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain pengamatan umum tentang ketidaksukaan anak terhadap kegiatan belajar ini, ada pula dukungan survai yang dilakukan oleh &lt;a href="http://pustaka-lebah.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tony Buzan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Tiga puluh tahun lamanya ia melakukan penelitian yang berkaitan dengan asosiasi seseorang terhadap kata ”belajar”. Waktu ditanyakan kepada responden kesan apa yang muncul dalam pikiran mereka saat mendengar kata ”pendidikan” atau ”belajar”, jawabannya adalah ”membosankan”, ”ujian”, ”pekerjaan rumah”, ”buang-buang waktu”, ”hukuman”, ”tidak relevan”, ”tahanan”, ”idih”, ”benci” dan ”takut”.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dapat disimpulkan bahwa belajar dan sekolah bukanlah hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Padahal saat anak-anak belum cukup umur, mereka merengek-rengek mau ikut sekolah bersama kakaknya. Mereka juga senang menulis dan menggambar atau membuka-buka buku walaupun belum mengerti isinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak-anak kita ini? Apakah karena belajar telah menjadi semacam pemaksaan dan beban saat anak mulai bersekolah sehingga keasyikan mereka menguasai keterampilan menjadi hilang?


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Belajar Itu?&lt;/span&gt;


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang bersifat menetap melalui serangkaian pengalaman. Belajar tidak sekadar berhubungan dengan buku-buku yang merupakan salah satu sarana belajar, melainkan berkaitan pula dengan interaksi anak dengan lingkungannya, yaitu pengalaman.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang penting dalam belajar adalah perubahan perilaku, dan itu menjadi target dari belajar. Dengan belajar, seseorang yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa.
Kita perlu memperluas pemahaman tentang belajar tidak hanya pada pengetahuan yang bersifat konseptual, melainkan juga hal-hal yang menyangkut keterampilan serta sikap pribadi yang mempengaruhi perilaku seseorang. Ada empat area yang disentuh berkenaan dengan belajar yaitu:

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.      Citra diri dan perkembangan kepribadian
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.      Latihan keterampilan hidup
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.      Cara berpikir atau pola pikir
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4.      Kompetensi atau kemampuan yang bersifat akademik, fisik, dan artistik.

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu ada satu area lagi yang menurut penulis sangat penting yaitu area yang bersifat rohani, yang menyangkut pengenalan seseorang terhadap Tuhan.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tony Buzan&lt;/span&gt;, seorang psikolog dari Inggris, mengatakan demikian; ”Pada saat seorang anak dilahirkan, ia sebetulnya benar-benar brilian.” Sebab itu, adalah salah jika orangtua beranggapan anaknya bodoh. Bila ia dikatakan bodoh, maka kemungkinan ia akan menjadi bodoh. Saran yang diberikan adalah agar anak mendapatkan sebanyak mungkin latihan fisik yang menggunakan tangan dan kaki seperti merangkak, memanjat, dan sebagainya. Orangtua perlu memberi kesempatan pada anak-anak untuk belajar dari kesalahan, yaitu melalui &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;trial and error&lt;/span&gt; (coba-salah). Anak-anak suka ber-eksperimen, mencipta, dan mencari tahu cara bekerjanya sesuatu. Mereka juga suka pada tantangan. Sebab itu penting bagi orangtua untuk memperluas dunia anak mereka, tidak terbatas hanya di rumah saja.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak-anak juga cenderung bertanya tentang segala hal yang tampak baru bagi mereka. Untuk itu dibutuhkan kesabaran orangtua untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan mereka. adalah kurang bijaksana jika orangtua menanggapi pertanyaan anak dengan mengatakan; ”Sudah, kamu anak kecil nggak usah tanya-tanya, bawel amat, sih ! atau; ”Kamu masih kecil, nanti sudah besar juga akan tahu sendiri.” Dalam hal ini orangtua sebenarnya sedang mematikan rasa ingin tahu anak. Padahal rasa ingin tahu ini adalah hal yang sangat penting dalam proses belajar.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada orangtua yang bereaksi dengan cara lain, yaitu dengan tidak menghiraukan atau mendiamkan anak, atau hanya menjawab seadanya agar anak segera berhenti bertanya. Pola asuh yang demikian tentu tidak mendukung metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang berusaha diterapkan di sekolah-sekolah sekarang ini. Sadar atau tidak, pola asuh orangtua atau cara guru mengajar memiliki andil dalam membentuk anak-anak kita menjadi aktif atau pasif. Bagi anak, bertanya merupakan modal dasar mereka untuk belajar.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, anak juga banyak belajar dengan cara meniru orang dewasa. Mereka mencontoh orang dewasa dengan melihat dan mengamati, atau dengan mendengar. Karena itulah, kita tidak usah heran mendengar anak kita tiba-tiba mengucapkan kata-kata makian atau kata kasar yang tidak pernah kita ajarkan. Mungkin mereka mendengar makian itu dari pembantu, dari televisi, atau dari kita sendiri. Saat anak mengucapkan kata-kata kasar seperti itu, saat itu juga orangtua perlu memberi penjelasan tentang arti kata-kata tersebut beserta dampaknya dan berusaha mengoreksinya.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Usia Efektif Belajar.&lt;/span&gt;


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kapan waktu yang paling tepat bagi seorang anak untuk belajar secara optimal ? Teori perkembangan kognitif Piaget memberi penekanan pada faktor kematangan atau kesiapan dalam belajar, artinya ada masanya bagi seorang anak untuk belajar sesuatu. Sebab itu adalah sia-sia jika kita mengajarkan sesuatu kepada anak sebelum waktunya. Misalnya, anak yang belum memasuki tahap perkembangan kognitif praoperasional (2-7 tahun) umumnya masih akan mengalami kesulitan dalam belajar bahasa karena belum mampu menggunakan simbol-simbol. Oleh karena itu, penganut teori &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Piaget&lt;/span&gt; berpendapat bahwa adalah sia-sia mengajar bahasa (di luar bahasa ibu) kepada anak usia di bawah lima tahun.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun belakangan ini berkembang teori belajar yang bisa kita baca dalam buku &lt;a href="http://yimi-gresik.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Accelerated&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Learning for the 21st Century&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;  oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl&lt;/span&gt;, yang mengatakan bahwa sejak lahir sampai dengan usia 10 tahun adalah masa-masa yang sangat penting dan peka bagi anak untuk belajar. Disebutkan bahwa 50% kemampuan belajar anak dikembangkan pada masa empat tahun pertama, 30% dikembangkan menjelang ulang tahunnya yang ke-8, dan tahun-tahun yang amat penting tersebut merupakan landasan atau penentu bagi semua proses belajarnya di masa depan.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan teori tersebut, anak perlu diberi banyak rangsangan pada masa empat tahun pertama agar ia belajar dan menyerap banyak hal. Tahun-tahun pertama inilah yang justru merupakan saat tepat dan ideal bagi anak untuk belajar lebih dari satu bahasa. Dikatakan juga bahwa semua anak sebenarnya jenius di bidang bahasa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa saat terbaik untuk mengembangkan kemampuan belajar adalah sebelum masuk sekolah, karena sebagian besar jalur penting di otak dibentuk pada tahun-tahun awal tersebut. Dalam hal ini, orangtua memegang peranan sangat penting dalam meletakkan fondasi bagi pengembangan kemampuan belajar anak.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TIPS-TIPS PRAKTIS&lt;/span&gt;


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut adalah kiat-kiat praktis agar belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.Ciptakan Lingkungan Tanpa Stres (Rileks).


&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Seorang ibu mengeluh bahwa anaknya yang baru kelas 3 SD sudah dapat mengungkapkan bahwa dirinya stres. Jika dipikir-pikir, anak-anak mendapatkan banyak tekanan, baik dari guru-guru di sekolah maupun orangtua dengan harapan-harapan yang terkadang kurang realistis demi terpenuhinya cita-cita orangtua yang dulu tidak berhasil dicapai.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orangtua hendaknya tidak terlalu menekankan nilai, kelulusan, dan gelar, sebab hakekat belajar bukan terletak pada itu semua. Saya ingat sekali pengalaman saya sewaktu di SD. Saya sangat lemah dalam bidang matematika. Setiap kali akan ulangan matematika, orangtua saya membuatkan soal latihan banyak sekali yang mencakup seluruh materi pelajaran yang telah diajarkan. Pada hari itu saya pasti tidur sangat malam karena orangtua terus mendesak saya menyelesaikan semua soal yang ada sampai saya menangis-nangis memohon agar hal ini segera diakhiri. Hingga keesokan paginya pun, orangtua saya tetap berusaha menggunakan menit-menit terakhir bahkan terkadang sampai di gerbang sekolah pun saya masih dijejali rumus-rumus yang harus dihafalkan.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak dapat disangkal bahwa akhirnya kepanikan orangtua juga menular pada diri saya sehingga betapa keras pun usaha orangtua mengajar saya, nilai saya tetap jelek, kadang-kadang pas-pasan. Yang jelas, sejak itu saya jadi agak alergi dengan pelajaran matematika.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak tidak bisa belajar efektif dalam keadaan stres. Syarat pembelajaran yang efektif adalah lingkungan yang mendukung dan menyenangkan. Belajar perlu dinikmati dan timbul dari perasaan suka serta nyaman tanpa paksaan. Untuk menciptakan lingkungan tanpa stres bagi anak, penting bagi orangtua agar rileks dan tidak menetapkan target atau menuntut anak melebihi kemampuannya.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan tuntutan dari orangtua dengan budaya yang berbeda. Orangtua dari budaya Jepang dan Cina menetapkan standar yang lebih tinggi terhadap prestasi anak, mengevaluasi dengan ketat hasil yang diperoleh, dan mendorong anak untuk bekerja lebih keras. Sedangkan orangtua Amerika lebih menekankan kemampuan dasar (IQ) anak daripada kerja keras dalam mencapai prestasi akademik. Sebenarnya perlu bagi orangtua untuk merefleksi diri dan menjawab dengan jujur pertanyaan; ”Apakah yang saya lakukan ini adalah untuk kepentingan anak saya atau untuk kepentingan diri saya sendiri ?”


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.      Manfaat Sarana Bermain untuk Belajar.&lt;/span&gt;


   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia anak adalah dunia bermain.  Bermain adalah metode belajar yang paling efektif. Anak-anak belajar dari segala kegiatan yang mereka lakukan. Kuncinya adalah bagaimana mengubah kegiatan bermain menjadi pengalaman belajar. Ketika anak merasa senang dan nyaman, ia akan mampu belajar dengan baik. Bagi anak kecil yang sedang belajar menghafal kata-kata yang berlawanan seperti kata atas dan bawah, sambil bermain bola kita bisa mengucapkan ”jika bola dilempar ke atas pasti akan jatuh ke bawah”, belajar kata nyala dan padam dengan memainkan lampu, belajar kata buka dan tutup melalui pintu yang dibuka dan yang ditutup, dan seterusnya. Bagi anak yang lebih besar, saat ulangan pelajaran hafalan, orangtua dapat menanyakan kembali melalui permainan tebak-tebakan dengan sistem poin. Jumlah poin yang diperoleh dapat ditukar dengan makanan kesukaannya. Yang ingin ditekankan di sini bukan pada permainan-nya, tapi kegembiraan yang menyertai.


   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor emosi sangat penting dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Ketika suatu pelajaran melibatkan emosi positif yang kuat, umumnya pelajaran tersebut akan terekam dengan kuat pula dalam ingatan. Untuk itu, dibutuhkan kreatifitas guru dan orangtua untuk menciptakan permainan-permainan yang dapat menjadi wadah dan sarana anak untuk belajar, misalnya melalui drama, warna, humor, dan lain-lain.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.      Gunakan Kelima Indra Anak sebagai Jalur Belajar.&lt;/span&gt;


   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagian neokorteks dari otak kita terbagi dalam beberapa fungsi khusus seperti fungsi berbicara, mendengar, melihat dan meraba. Kita menyimpan memori-memori indrawati di tempat yang berbeda. Jika ingin memiliki memori yang kuat, kita harus menyimpan informasi dengan menggunakan semua indera kita - melihat, mendengar, berbicara, menyentuh, dan membaui. Anak-anak umumnya belajar melalui pengalaman konkret yang aktif. Untuk memahami konsep “bulat” yang abstrak, seorang anak perlu bersentuhan langsung dengan benda-benda bulat, apakah itu dengan cara melihat dan meraba benda bulat atau dengan cara menggelindingkan bola. Menurut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Vernon A. Magnesen&lt;/span&gt; dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Quantum Teaching&lt;/span&gt;, kita belajar 10% dari apa yang kita baca; 20% dari apa yang kita dengar; 30% dari apa yang kita lihat; 50% dari apa yang kita lihat dan dengar; 70% dari apa yang kita katakan; dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.      Pakailah Seluruh Dunia Sebagai Ruang Kelas.&lt;/span&gt;


   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ubahlah segala sesuatu yang ada di sekitar kita menjadi pengalaman belajar. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marzollo dan Lloyd&lt;/span&gt; berkata demikian; “Semuanya tersedia di sekitar Anda.” Berikut ini adalah beberapa ide kreatif dari buku &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Revolusi Cara Belajar&lt;/span&gt;, oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gordon Dryden &amp;amp; Dr. Jeanette Vos&lt;/span&gt;:


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Belajar tentang berbagai bentuk. Bentuk lingkaran bisa dilihat pada roda, balon, matahari, bulan, kacamata, mangkok, piring, uang logam; sedangkan persegi panjang bisa dilihat pada pintu, jendela, buku, kasur. Bujursangkar bisa dilihat di layar komputer, televisi, kotak tissu, saputangan, taplak meja; sedangkan segitiga bisa dilihat pada pohon Natal, rumah, gunung, dan tenda."


   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Belanja di supermarket menjadi petualangan belajar. Sebelum belanja, minta anak-anak Anda untuk mengecek kulkas dan seluruh isi rumah, kira-kira apa saja yang dibutuhkan oleh mereka dan seluruh anggota keluarga. lalu diadakan lomba waktu berada di supermarket. Siapa yang paling cepat dan paling banyak menemukan barang-barang yang dibutuhkan, dialah yang menang.”


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Belajar menghitung benda-benda nyata Minta anak untuk menghitung benda-benda yang dapat disentuhnya, misalnya; “Kamu punya satu hidung dan berapa mata? Berapa jarimu ?” libatkan juga anak ketika Anda menyiapkan meja untuk dua, tiga, atau empat orang. Atau biarkan anak Anda yang menghitung uang ketika membayar di kasir."


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Belajar mengkategorikan sesuatu. Otak menyimpan informasi melalui asosiasi (persamaan) dan penggolongan atau kategori dan Anda bisa menciptakan kegiatan bermain anak sambil bekerja. Waktu Anda hendak membereskan pakaian, anak bisa diminta untuk memilah-milah berdasarkan warna pakaian, jenis pakaian, maupun pemilik. Dengan demikian, Anda dapat tetap mengerjakan tugas rumah tangga sambil anak juga belajar tentang sesuatu."


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.      Pentingkan dorongan positif.&lt;/span&gt;


   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan penelitian, anak sejak usia dini rata-rata menerima enam komentar negatif untuk satu dorongan positif yang diterimanya. Saya kira, tingkat perbandingan dorongan positif dan negatif di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; akan jauh lebih besar. Kebanyakan kita dibesarkan dalam lingkungan dengan komentar negatif yang lebih banyak daripada yang positif. Padahal dorongan positif memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membangun rasa percaya diri anak dan memacu semangat agar anak berprestasi dengan lebih baik lagi. Sebagai orangtua yang mungkin dibesarkan dalam keluarga yang lebih banyak memberikan komentar negatif, seyogyanya kita lebih berhati-hati agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama pada anak-anak kita.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.      CINTA adalah resep penting dalam pendidikan anak.&lt;/span&gt;


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;      Prof. Diamond&lt;/span&gt;, seorang ahli saraf, mengingatkan bahwa cinta merupakan resep paling penting dalam dunia pendidikan anak. Kehangatan dan kasih sayang adalah faktor utama dalam mendukunga perkembangan seutuhnya. Sentuhan emosi memberikan dampak besar dalam proses belajar anak.


&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu diketahui bahwa kapasitas otak manusia tidak terbatas. Seseorang bisa terus belajar sejak lahir sampai akhir hidupnya. Menurut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antonia Lopez&lt;/span&gt;, ”Tugas utama orang dewasa adalah menyediakan sebanyak mungkin kesempatan yang sesuai dengan tingkat umur dan mengembangkannya secara bertahap.” Otak pun akan mampu bekerja secara efektif bila digunakan secara teratur. Ada pepatah kuno berbunyi demikian; ”If you don’t use it, you lose it” Jika tidak digunakan, Anda akan kehilangan otak Anda.

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(sumber utama : Shelfie Tjong, S.Psi. http://pustaka-lebah.com)
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3951805894104379731?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://pustaka-lebah.com' title='&lt;p=&quot;strong&quot;&gt;Belajar yang Menyenangkan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/3951805894104379731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=3951805894104379731&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3951805894104379731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3951805894104379731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/07/belajar-yang-menyenangkan.html' title='&lt;p=&quot;strong&quot;&gt;Belajar yang Menyenangkan'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-8429528150913466195</id><published>2009-07-05T17:46:00.004+07:00</published><updated>2009-07-05T18:10:48.952+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='multiple intelligence'/><title type='text'>Multiple Intelligence</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebentar lagi awal tahun ajaran baru segera dimulai. Banyak persiapan yang musi dilakukan tidak hanya oleh guru tapi juga orang tua dan siswa. Tentunya akan banyak dijumpai hal-hal baru bagi mereka yang naik ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Yang utama pastilah tetek bengek segala ubo-rampe sekolahan mulai dari tas, sepatu, seragam dan buku-buku semuanya pasti baru. Namun ada satu hal yang seharusnya juga menjadi perhatian kita semua. Jangan sampai semangat menggebu para siswa baru ini perlahan padam dan sirna karena kesalahan kita sebagi guru maupun orang tua dalam mendeteksi potensi tersembunyi anak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sudah seharusnya - mulai sekarang - kita memandang setiap anak, setiap individu adalah pribadi-pribadi unik yang mempunyai kecerdasannya masing-masing. Sudah bukan jamannya lagi kita hanya mendewakan kecerdasan akademik (IQ) yang terbukti tidak mampu mendeteksi kesuksesan seseorang. Bukankah kita sering melihat teman, saudara atau tetangga yang kecerdasan IQ-nya sedang-sedang saja tapi mampu mencapai kesuksesan dalam kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sesuai penelitian mutakhir oleh Dr Howard Gardner, bahwa setiap individu memiliki beragam kecerdasan yang tidak hanya kecerdasan kognitif saja. Kecerdasa-kecerdasan ini lazim disebut dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MULTIPLE INTELLIGENCE&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kecerdasan majemuk/berganda&lt;/span&gt;.&lt;span style="" lang="SV"&gt; Mengembangkan kecerdasan majemuk anak merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan depan anak.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa itu kecerdasan majemuk ?…&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
Sebagai orang tua masa kini, kita seringkali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci untuk kesuksesan hidup di masa depan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya. Kalau IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seorang anak di masa depan, lalu apa?  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jawabannya adalah: Prestasi dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kecerdasan Majemuk&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Multiple Intelligence&lt;/span&gt;), dan BUKAN HANYA prestasi akademik. Kemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdasannya yang majemuk itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;8 Jenis Kecerdasan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
Dr. Howard Gardner, peneliti dari Harvard, pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 8 jenis kecerdasan yang meliputi  : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Bahasa – cerdas dalam mengolah kata &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Gambar – memiliki imajinasi tinggi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Musik – cerdas musik, peka terhadap suara dan irama &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Tubuh – trampil dalam mengolah tubuh dan gerak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Matematika dan Logika – cerdas dalam sains dan berhitung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Diri – menyadari kekuatan dan kelemahan diri &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Cerdas Alam – peka terhadap alam sekitar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas berarti memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol. Albert Einstein, terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni, arsitektur, matematika dan fisika. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup bagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru PERAN ORANG TUA dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung JAUH LEBIH PENTING dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak. Jadi, untuk menjamin masa depan anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Ayah-Ibu dan juga guru HARUS berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-8429528150913466195?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.mypersonality.info' title='&lt;p = &quot;strong&quot;&gt;Multiple Intelligence'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/8429528150913466195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=8429528150913466195&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/8429528150913466195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/8429528150913466195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/07/multiple-intelligence.html' title='&lt;p = &quot;strong&quot;&gt;Multiple Intelligence'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-7802924796701075874</id><published>2009-05-31T20:23:00.005+07:00</published><updated>2009-05-31T21:45:33.820+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><title type='text'> RSBI....?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Bulan Mei dan Juni adalah bulan paling sibuk sekaligus melelahkan bagi setiap orang tua yang memiliki anak di tingkat terakhir satuan pendidikan (kelas 6, 9, atau 12). Mereka harus mendampingi putra-putrinya dalam memilih sekolah. Dan bisa ditebak, sekolah mana yang paling banyak diminati...ya, tentu saja sekolah-sekolah favorit di masing-masing kota.&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/33.gif" alt="merajuk" title="merajuk" /&gt;

&lt;p align="justify"&gt;Mereka (orang tua dan anak) berpikir bahwa dengan bersekolah di sekolah favorit tsb akan mempermudah mereka meniti cita-cita. Ada yang memang memiliki kemampuan intelektual tinggi, namun ada pula siswa yang intelektual rendah tetap pede mencoba "peruntungannya." Dan ada pula orang tua/siswa yang hanya sekedar memburu prestise dengan mendaftar (dan berharap diterima &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/4.gif" alt="sengihnampakgigi" title="sengihnampakgigi" /&gt;) di sekolah favorit.

&lt;p align="justify"&gt;Dan tahun ini ada semangat dan trend baru di dunia pendidikan tanah air, yaitu memburu bangku di sekolah berlabel RSBI (rintisan sekolah berstandat internasional). Katanya sih dengan bersekolah di RSBI akan mempermudah langkah mereka untuk kelak menuntut ilmu di "negeri orang" (emang negeri kita bukan negeri orang ? &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/4.gif" alt="sengihnampakgigi" title="sengihnampakgigi" /&gt;). Berdasar hukum ekonomi : besarnya permintaan akan mempengaruhi besar harga jika persediaan sedikit/terbatas. Nah rupanya ini yang coba dimanfaatkan oleh beberapa sekolah dengan mengadopsi gaya "kamuflase kata" untuk menarik iuran/dana daari masyarakat setinggi-tingginya.

&lt;p align="justify"&gt;Lihat saja salah satu contoh di SMA favorit di Kediri (&lt;a href="http://www.jawapos.com/"&gt;Radar Kediri&lt;/a&gt;, 29 Mei 2009), bermacam iuran/sumbangan dengan dalih meningkatkan fasilitas belajar siswa jika ditotal mencapai 5 - 7 juta rupiah &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/39.gif" alt="fikir" title="fikir" /&gt;...sebuah jumlah fantastis untuk ukuran SMA di kota seperti Kediri yang masyarakatnya keanyakan adalah kelas menengah.

&lt;p align="justify"&gt;Patut dipertanyakan disini adalah : apakah sedemikian pentingnya sar-pras yang katanya untuk mendukung label RSBI tersebut ? Karena separo lebih dana tersebut dianggarkan untuk pengadaan LCD proyektor, TV, komputer dan AC. Sebandingkah perolehan "ilmu" yang diperoleh siswa denga segala fasilitas yang terkesan di-"ada-adakan" tersebut ?

&lt;p align="justify"&gt;Jadi.......WASPADALAH...dalam memilih sekolah. Karena ditengarai (berdasar beberapa pengamatan dan kesaksian) label RSBI hanya digunakan dalih unntuk "membuka" lembaga bimbel di sekolah. Perbedaan kelas RSBI dengan reguuler hanya terletak pada fasilitas semata, kurikulum dan cara penyampaian tetap sama. Betul ada beberapa mata pelajaran yang menggunakan bilingual, tapi ternyata hanya sebatas "basa-basi" macam : good afternoon, how are you de-es-be...penyampaian materi ? Tetap pakai bahasa Indonesia. Dan yang lebih parah sampai saat ini belum ada sekolah berlabel RSBI yang telah menjalin kemitraan dengan sekolah luar negeri (sebagai salah satu syarat bahwa lulusannya setara dengan sekolah luar negeri), sehingga kurikulumnyapun tetap kurikulum nasional.

&lt;p align="justify"&gt;Jadi ? Jangan bermimpi muluk untuk bersekolah di RSBI, karena :
&lt;p align="justify"&gt;1. belum ada standar baku yang memberikan bukti telah diakuinya lulusan sekolah tersebut berhak/setara dengan lulusan luar negeri
&lt;p align="justify"&gt;2. sampai saat ini (minimal untuk wilayah karesidenan Kediri) belum ada satupun sekolah RSBI yang telah menjalin kemitraan dengan sekolah luar negeri
&lt;p align="justify"&gt;3. jika tidak ada rencana melanjutkan bersekolah/kuliah di luar negeri, untuk apa bersekolah di RSBI ?
&lt;p align="justify"&gt;4. anda harus siap merogoh kocek paling dalam untuk bisa duduk di bangku sekolah RSBI. Dan yang terpenting, persiapkan fisik karena sepanjang hari di sekolah anda akan berada di ruang ber-AC. &lt;img style="width: 20px; height: 20px;" class="emoticon" src="http://img148.imageshack.us/img148/3656/ngacirzy5.gif" alt=":ngacir:" title=":ngacir:" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-7802924796701075874?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.google.com' title='&lt;p=&quot;strong&quot;&gt; RSBI....?'/><link rel='enclosure' type='' href='http://www.klubguru.com' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/7802924796701075874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=7802924796701075874&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7802924796701075874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7802924796701075874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/05/rsbi.html' title='&lt;p=&quot;strong&quot;&gt; RSBI....?'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-7295145301089857700</id><published>2009-05-31T16:13:00.005+07:00</published><updated>2009-05-31T21:40:29.937+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNAS'/><title type='text'>UNAS...........(yang) MENGENASKAN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Pagi tadi hati rasa tersentak ketika membaca huruf demi huruf judul artikel di harian &lt;a href="http://www.jawapos.com/"&gt;JAWA POS&lt;/a&gt;...

&lt;p align="center"&gt;"TAK LULUS, 19 SMA UNAS ULANG"
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam benak terbayang beberapa wajah siswa SMA yang muram karena tidak lulus dalam UNAS kemarin. Tergambar pula mereka harus (terpaksa) mengikuti UNAS Kesetaraan atau UNAS Paket C, karena sejak beberapa tahun sudah tidak ada lagi UNAS ulang, yang ada adalah UNAS susulan yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak bisa mengikuti UNAS sesuai jadwal dikarenakan sakit (dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter).

&lt;p align="justify"&gt;Namun hati seakan tidak percaya ketika mata semakin jauh menelusuri huruf demi huruf. Ternyata yang berhak mengikuti UNAS Ulang (berdasar rekomendasi BSNP ?) hanyalah siswa-siswi dari 19 SMA se-Indonesia yang seluruh siswanya tidak lulus. Lebih jauh ketidaklulusan itu disebabkan karena adanya kesamaan pola jawaban untuk beberapa (seluruh ?) mapel yang diujikan.

&lt;p align="justify"&gt;Tuntas membaca berita tersebut terselip beberapa pertanyaan yang menggelitik.

&lt;p align="justify"&gt;1. dengan menggunakan dasar mana (UU, PP atau POS) sehingga BSNP memberikan rekomendasi kepada 19 SMA tersebut untuk mengadakan UNAS Ulang kepada semua siswa yang dari hasil scanner diprediksi (karena belum ada pengumuman resmi hasil UNAS) tidak lulus ?

&lt;p align="justify"&gt;2. UNAS ulang dilakukan karena jawaban siswa memiliki pola yang sama, dengan kata lain ditengarai telah terjadi kebocoran soal sehingga siswa di SMA tersebut telah memperoleh jawaban sebelum ujian dimulai (beberapa menit, jam atau hari ?). Jadi dalil mana yang digunakan BSNP atau Departemen Pendidikan untuk mengijinkan dan malah menganjurkan siswa dan sekolah yang telah nyata melakukan kecurangan ?

&lt;p align="justify"&gt;3. jika siswa/sekolah yang telah melakukan pelanggaran diberi kesempatan untuk melakukan UNAS ulang, bagaimana dengan siswa yang tidak lulus sementara sekolahnya tidak melakukan kecurangan apapun ?

&lt;p align="justify"&gt;4. jika peristiwa ini, UNAS ulang, benar-benar dilakukan (terlepas seberapa pandai siswa-siswa tersebut, tapi kalau melakukan kecurangan harusnya tidak ditolerir) maka semakin lengkaplah keterpurukan dunia pendidikan kita. Atau haruskah dibuat UU/PP baru yang mengatur tentang pelaksanaan UNAS ulang ini ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-7295145301089857700?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.google.com' title='&lt;p=&quot;strong&quot;&gt;UNAS...........(yang) MENGENASKAN'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/7295145301089857700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=7295145301089857700&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7295145301089857700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7295145301089857700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/05/unasyang-mengenaskan.html' title='&lt;p=&quot;strong&quot;&gt;UNAS...........(yang) MENGENASKAN'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-6961863675470264466</id><published>2009-05-31T15:15:00.010+07:00</published><updated>2009-05-31T16:58:23.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips dan trik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Multi Level Link'/><title type='text'>MLM Backlink</title><content type='html'>&lt;p&gt;Para blogger, baik yang pake blogspot, wordpress de-es-be, pasti menghendaki web/blognya memiliki ranking tinggi (PR/page rank). PR ini didapat jika banyak orang yang nge-link web/blog kita ke web/blog mereka. Susah sih...tapi dengan usaha yang keras disertai semangat membara pasti bisa PR yang kita idamkan itu menjadi kenyataan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah bagi para newbie ada cara mudah dan relatif cepat untuk memperoleh rank. Coba aja.............
&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siapa yang meragukan kedahsyatan faktor kali? Siapa yang menganggap remeh kehebatan penyebaran produk dengan pemasaran sistem Multi Level Marketing? Nah, saya ingin mencoba mengajak anda semua untuk memanfaatkan kedahsyatan faktor kali dan kecepatan penyebaran ini dalam bentuk backlink.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Caranya sangat mudah. Anda hanya perlu meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel anda:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.inilah.com/"&gt;Inilah.com&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/"&gt;Republika&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.detik.com/"&gt;Detik&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.okezone.com/"&gt;Okezone&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/"&gt;Facebook&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.friendster.com/"&gt;Friendster&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.google.com/"&gt;Google&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.cafebisnis.com/"&gt;Bisnis Online&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://cafeblogger.web.id/"&gt;Panduan Belajar WordPress&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://inovasiguru.blogspot.com/"&gt;Inovasi Guru&lt;/a&gt;
&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Tapi ingat, sebelum anda meletakkan link diatas, anda harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link anda sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). &lt;span id="more-170"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika tiap peseta mampu mengajak 5 orang saja, maka jumlah backlink yang akan didapat adalah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika posisi anda 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = &lt;strong&gt;1,953,125&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan semuanya menggunakan kata kunci yang anda inginkan. Dari sisi SEO anda sudah mendapatkan &lt;strong&gt;1,953,125&lt;/strong&gt; backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline anda mengklik link itu, anda juga mendapatkan traffik tambahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nah, silahkan copy paste artikel ini, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link web anda di posisi 10. &lt;strong&gt;Ingat, anda harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal.&lt;/strong&gt; Karena jika anda tiba2 di posisi 1, maka link anda akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selamat mencoba.. dan mari kita lihat bagaimana efeknya  &lt;img style="width: 18px; height: 19px;" class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/64.gif" alt="duit" title="duit" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;NB: Jika cara ini berhasil, siap-siap juga pindah hosting yang lebih gede.. &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/11.gif" alt="cium" title="cium" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-6961863675470264466?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/6961863675470264466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=6961863675470264466&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/6961863675470264466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/6961863675470264466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/05/mlm-backlink.html' title='&lt;p =&quot;strong&quot;&gt;MLM Backlink'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-1182215568588483277</id><published>2009-05-13T14:59:00.006+07:00</published><updated>2009-05-26T15:36:39.598+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><title type='text'>cONgrATulASiON my CoUSin</title><content type='html'>&lt;p align ="justify"&gt;Kehidupan selalu mengalir bagai roda. Ada saatnya di atas ada pula saat di bawah. Dari lahir sampe' kelak kita almarhum(ah)-pun, kehidupan kita selalu terbagi dari fase awal dan akhir.
&lt;p align ="justify"&gt;Saat pertama keluar dari rahim ibu (meski kalian ada yang melalui proses bayi tabung, tapi toh proses 'nongolnya' juga sama....&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/35.gif" alt="gile" title="gile" /&gt;) adalah awal dimulainya kehidupan yang baru. Lalu beranjak menjadi kanak-kanak. Ketika masa kanak-kanak berakhir mmerupakan awal menapak masa remaja.........dan seterusnya.
&lt;p align ="justify"&gt;Demikian juga, setiap orang selalu mengkhiri masa jomblo untuk memasuki fase baru kehidupan dewasa. Dewasa dalam segala hal.
&lt;p align ="justify"&gt;Ingat toh...ketika jomblo sepertinya dunia ini cuma milik kita. Berbuat sesuai kemauan kita...bangun sering gak pagi-pagi benar (emang ada pagi-pagi palsu ? &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/13.gif" alt="hah" title="hah" /&gt; ), setiap dimitai tolong ortu kadang (baca : lebih sering) kita mbandel kayak pak Ogah...ah. Palagi jika ortu dah mulai ceramah....wuiiiih, rasanya kepala mo pecah. Rasa-rasa kuping ni gak usyah bisa dengar &lt;img style="width: 52px; height: 15px;" class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif" alt="bising" title="bising" /&gt;..mending buat cantelan wajan aja kaleee &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/105.gif" alt="rindu" title="rindu" /&gt;. Ato - bagi yang punya 'ilmu' - sering nasehat (omelan, ceramah...ato apa ?) on lewat kuping kiri dan langsung out by kuping kanan. Tuuuul gak ?
&lt;p align ="justify"&gt;Tapi sejomblo-jomblonya orang (itu kalo kalian-kalian merasa 'kayak' orang &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/4.gif" alt="sengihnampakgigi" title="sengihnampakgigi" /&gt; ) suatu saat pasti kekandang jua....maksudnya pasti ngakhiri masa lajangnya. 'Kan udah ketemu do'i yang cocok di hati ?
&lt;p align ="justify"&gt;Nah....berarti saat kita mengakhiri masa jomblo...saat itu pula kita memulai awal hidup berdua..trus bertiga...trus berempat....trus.....sudah ah...KB ikut program pemerintah biar bumi ini gak makin ngalami global warming.
&lt;p align ="justify"&gt;Begitu juga My nice Cousin...&lt;a href="http://www.lutfi-rifai.web.id/"&gt;Mas Lutfi RA &lt;/a&gt;itu tuh yang orangnya kecil imut kayak rani karni (survey : rano karno tai lalatnya di dagu..kalo lutfi di atas bibir....sumpah...jadi tambah manis nih ponakan) yang bentar lagi mo 'nuntasin' masa perjakanya secara halal dan legal tanpa ada unsur paksaan...rekayasa ataopun indoktrinasi dan intimidasi pihak-pihak tak senonoh (he...he...he...kalo ngomong ginian jadi ingat &lt;a href="http://www.kapanlagi.com"&gt;rani juliani&lt;/a&gt; &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/37.gif" alt="ngantuk" title="ngantuk" /&gt;).
&lt;p align ="justify"&gt;Kembali ke topik awal...tentang my cousin ini...kayaknya dia dah gak mo lagi puyeng mikirin 'senjata' yang mungkin hampir berkarat. Untung aja 'senjata' itu dianggap jimat baginya (barang siji sing dilumat........eh..dirumat) jadi ya msih "TOK CER" (AWAS !!! jangan ngeres !!! maksudnya tokcer tuh manjur bin mantab alias berkhasiat...bukannya ketok langsung encer loooh &lt;img class="emoticon" src="http://img148.imageshack.us/img148/5263/musikpi4.gif" alt=":music:" title=":music:" width="50" height="50" /&gt;).
&lt;p align ="justify"&gt;SO.....slamat nikmatin masa-masa hanimun (transl.: honeymoon). Mulailah masa-masamu seperti tiga monyet di ragunan...yang satu tutup mulutnya, satunya tutup mata, dan satunya lagi tutup kuping. Jadi kalo mulai ada rasa mo 'lirik kiri-kanan' cari Rani...tutup tuh mata. Kalo da rasa mo ngucap "&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/8.gif" alt="love" title="love" /&gt;" ma &lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/74.gif" alt="women" title="women" /&gt; laen...tutup tuh mulut ato pulang dech ke wife. Kalo mo curi dengar koleksi 'antik'-nya teman...tutup tuh kuping. Jangan tiru tingkah kambing yang selalu ingin makan rumput di kandang laen meski rumput di kandang sendiri lebih ijo.
&lt;p align ="justify"&gt;Smoga SURAMADU segera dibuka untuk umum sehingga kirab keperjakaanmu bisa lancar hingga ke kandangnya (moga-moga gak ada hiu di selat madura....&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/24.gif" alt="gelakguling" title="gelakguling" /&gt; ).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-1182215568588483277?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/1182215568588483277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=1182215568588483277&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/1182215568588483277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/1182215568588483277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/05/congratulasion-my-cousin.html' title='cONgrATulASiON my CoUSin'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-7753956809189625309</id><published>2009-04-19T14:43:00.006+07:00</published><updated>2009-05-26T16:33:22.797+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNAS'/><title type='text'>UNAS-mu.....UNAS-ku</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Hari ini adalah hari terakhir minggu tenang untuk adik-adik &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SMA&lt;/span&gt;/&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SMK&lt;/span&gt;. karena besok adalah hari pertama penentuan kelanjutan pendidikan kalian.
Nggak usah takut, grogi, atau minder. Anggap saja empat hari kedepan layaknya menghadapi ulangan harian dari guru-guru kalian. Jangan terlalu pikirkan nilai ambang batas kelulusan. Berprinsiplah : lakukan segalanya dengan sebaik-baiknya untuk hasil yang terbaik.........insya allah adik-adik akan lulus.
&lt;p align="justify"&gt;Kenapa ?
&lt;p align="justify"&gt;Karena dengan memegang prinsip itu maka tubuh dan otak adik-adik akan mampu merangsang hormon dan neurotransmiter otak untuk terus menerus membuat pembaruan hubungan di antara sel-sel otak.
&lt;p align="justify"&gt;Contoh gampangnya : jika adik-adik berlaku sopan, suka menolong kesulitan kawan dan tidak memilih-milih (tentunya adik tetap harus selektif) dalam bergaul, maka akan banyak teman-teman baru yang adik dapatkan.
&lt;p align="justify"&gt;Begitulah cara kerja otak dengan sugesti. Maka jika adik-adik lebih fokus pada tindakan dan usaha yang sebaik-baiknya daripada melulu meikirkan nilai kelulusan, maka otak dan semua anggota tubuh yang berada dalam kendalinya akan mampu bekerja sama unntuk mencapai hasil terbaik.
&lt;p align="justify"&gt;Coba adik-adik perhatikan lingkungan sekitar. Pernahkah adik-adik melihat penjaga sekolah/tukang kebun sekolah ketika marah ? Pernahkah pula adik-adik melihat bapak kepala &lt;a href="http://dispendik-kabkediri"&gt;sekolah marah&lt;/a&gt; ? Sama atau beda caranya ? Baik kata-katanya, sikap dan....bahasa tubuhnya.
&lt;p align="justify"&gt;Itu semua terjadi karena otak mengatur dan mengendalikan semua sistem saraf dan hormon di dalam tubuh kita. Setiap orang (memang ada pengecualan) yang berada pada posisi pemimpin, kata-kata, sikap dan bahasa tubuh saat marah akan berbeda dengan pak kebon kita.
&lt;p align="justify"&gt;Jadi, sekali lagi....fokuskan pikiran adik-adik pada tindakan dan usaha bukan pada hasil.
&lt;p align="justify"&gt;Sebagaimana sering adik-adik dengar : "Berusahalah kamu dengan sebaik-baik usaha, dan kemudian bertawakallah"
&lt;p align="justify"&gt;Untuk adik-adik : Selamat berjuang........lakukan yang terbaik demi sukses di masa depan.
&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/41.gif" alt="tepuktangan" title="tepuktangan" /&gt;&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/41.gif" alt="tepuktangan" title="tepuktangan" /&gt;&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/41.gif" alt="tepuktangan" title="tepuktangan" /&gt;&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/41.gif" alt="tepuktangan" title="tepuktangan" /&gt;&lt;img class="emoticon" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/41.gif" alt="tepuktangan" title="tepuktangan" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-7753956809189625309?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/7753956809189625309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=7753956809189625309&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7753956809189625309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7753956809189625309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/04/unas-muunas-ku.html' title='UNAS-mu.....UNAS-ku'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-7501384119434844096</id><published>2009-04-10T13:55:00.022+07:00</published><updated>2009-05-26T16:11:22.926+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembelajaran biologi'/><title type='text'>“SUARA ALAM” -  Inovasi Pembelajaran Biologi Dengan Kalimat Bercerita</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sudah menjadi asumsi umum bahwasanya Biologi lebih menitikberatkan pada &lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;proses hafalan&lt;/spam&gt; daripada upaya mengenali makhluk hidup dan alam.
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa dibanding dengan ilmu eksakta yang lain, &lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;Biologi&lt;/spam&gt; dominan dengan materi-materi hafalan. Padahal jika &lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;ketrampilan proses&lt;/spam&gt; lebih ditonjolkan, maka Biologi menjadi ilmu yang penuh dengan &lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;penalaraan dan logika&lt;/spam&gt;. Karena sebagai salah satu dari kelompok &lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;ilmu eksakta&lt;/spam&gt;, Biologi juga tidak terlepas dari logika "&lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;sebab-akibat&lt;/spam&gt;.”
&lt;div&gt;
&lt;input style="margin: 0px; padding: 0px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';this.innerText = ''; this.value = 'Sembunyikan'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Tampilkan'; }" value="Tampilkan" type="button"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 1px solid rgb(125, 125, 125); margin: 10px auto; padding: 5px; background: #99C9FF none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 400px;"&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Karena adanya stereotif inilah yang membuat Biologi sebagai ilmu”banci”, tidak menantang dan kurang greget. Padahal kalau kita mau sedikit bersusah payah memutar otak, mengubah mindset pengajaran, Biologi justru akan menjadi ilmu yang betul-betul “menggugah selera” siswa untuk selalu ingin tahu tentang alam dan lingkungannya.

&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;ALAM Sebagai Laboratorium Raksasa Biologi&lt;/spam&gt;

&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Salah satu cara untuk membuat pembelajaran Biologi menjadi “menantang” adalah dengan membuat lingkungan/alam di sekitar kita sebagai media belajar yang tidak pernah habis.
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebagai contoh : saat kita menyampaikan materi tentang alat perkembangbiakan tumbuhan, tanyalah kepada siswa :
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;a. Mengapa bunga (jangan sebutkan mahkota) mempunyai warna yang bermacam-macam ? Apakah itu sebuah kebetulan atau ada tujuan tertentu tentang penciptaannya ?
Ajaklah siswa untuk mengamati kebun bunga atau berilah siswa berbagai macam bunga dengan warna yang berbeda-beda. Suruhlah beberapa siswa memilih bunga mana yang paling menarik bagi mereka (jangan tanyakan bunga yang mereka sukai.......karena jangan-jangan jawaban mereka melenceng pada bunga bank....... ). Tanyakan mengapa mereka memilih bunga tersebut (pandulah agar siswa memilih bunga dengan warna yang mencolok). Kalau manusia tertarik pada bunga tersebut, tanyakan apakah serangga atau hewan juga melakukan hal yang sama ? (barulah bimbing mereka menyimpulkan fungsi warna pada mahkota bunga).
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;b. Mintalah siswa atau anda siapkan berbagai macam tangkai saari beserta benang sarinya. Ajaklah siswa untuk memberikan pendapat hubungan antara berbagai macam benang sari dengan cara penyerbukannnya
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;c. Dan sebagainya...........................

&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;Kalimat Cerita&lt;/spam&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jika kita telah selesai mengidentifikasi sifat, fungsi, dan ciri dari berbagai jenis bunga kaitannya dengan proses penyerbukannya, buatlah data tersebut kemudian ajaklah siswa untuk membuat data-data tersebut bernyanyi atau bercerita utuk mereka.
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebagai contoh :
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ciri-ciri bunga yang penyerbukannya dibantu oleh angin :
a. serbuk sari banyak, kecil, dan ringan
b. serbuk sari lengket
c. tangkai sarinya panjang berupa malai
d. kepala sari menggantung
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nah, ciri-ciri tersebut dapat kita rangkai menjadi sebuah cerita dari “SUARA ALAM” sebagai berikut..........
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;a. Di negeri angin banyak bunga yang bisa terbang. Bunga itu mempunyai serbuk sari yang sangat lengket. Bentuknya kecil, ringan, dan jumlahnya banyak. Serbuka sarinya menggantung pada sebuah tangkai sari yang panjang.
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;A t a u...................
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;b. Banyak sekali bunga yang tertiup oleh angin. Lihatlah ternyata serbuk sarinya lengket. Oiiii.........lucunya. Bentuknya kecil, ringan, tapi jumlahnya banyak. Mereka terlihat rukun sehingga menggantung bersama di tangkai sari yang berleher panjang.
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;(Ingatlah teori Hal-hal yang mudah diingat di buku “&lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;Quantum Teaching/Learning&lt;/spam&gt;”-nya Bobbi de Porter dan buku “&lt;spam style="font-weight: bold;"&gt;Super Genius Memori&lt;/spam&gt;”-nya Irwan widiatmoko)&lt;/p&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-7501384119434844096?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.inovasiguru.blogspoot.com' title='“SUARA ALAM” -  Inovasi Pembelajaran Biologi Dengan Kalimat Bercerita'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/7501384119434844096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=7501384119434844096&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7501384119434844096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7501384119434844096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/04/suara-alam-inovasi-pembelajaran-biologi.html' title='“SUARA ALAM” -  Inovasi Pembelajaran Biologi Dengan Kalimat Bercerita'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3987898663083091643</id><published>2009-04-08T15:54:00.005+07:00</published><updated>2009-05-26T16:18:26.465+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Pembelajaran Menggunakan PIKTOGRAM</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sampai saat ini masih banyak guru yang berpikir bahwa mengajar atau &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;proses pembelajaran&lt;/span&gt; adalah pemindahan pengetahuan/hafalan dari guru kepada siswa. Asumsi mereka bahwa guru mengetahui dan mempunyai semua ilmu pengetahuan, sedang siswa hanyalah sekumpulan individu yang masih hijau, tidak memiliki pengetahuan, dan tidak mampu membangun pengetahuannya sendiri. Akibatnya siswa menjadi pasif. Padahal seharusnya sekolah menjadi sebuah tempat untuk belajar bagi peserta didik untuk megembangkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bakat-minatnya&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;menemukan dan mengembangkan potensi diri&lt;/span&gt;, serta tempat untuk &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;menemukan jati dirinya&lt;/span&gt;.
&lt;div&gt;
&lt;input style="margin: 0px; padding: 0px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';this.innerText = ''; this.value = 'Sembunyikan'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Tampilkan'; }" value="Tampilkan" type="button"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 1px solid rgb(125, 125, 125); margin: 10px auto; padding: 5px; background: #99C9FF none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 400px;"&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;
&lt;p align="justify"&gt;Dari uraian tersebut dapat kita simpulkan bahwa rang yang paling penting di sekolah adalah siswa, guru hanyalah seorang “pembantu” atau &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;fasilitator&lt;/span&gt; (Heinz Kock.1981).

&lt;p align="justify"&gt;Hasil belajar yang optimal akan dapat diperoleh oleh siswa jika berada di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;lingkungan belajar yang positif secara fisik, emosi, dan sosial&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lingkungan yang tenang&lt;/span&gt; sekaligus dapat menggugah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;semangat, adanya rasa keutuhan, keamanan, minat, dan kegembiraan disertai keterlibatan pebelajar&lt;/span&gt; secara penuh dan aktif serta mengambil tanggung jawab penuh atas &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;usaha belajarnya&lt;/span&gt; sendiri, ada &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kerjasama antar individu&lt;/span&gt;, dan adanya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;variasi belajar&lt;/span&gt; yang memungkinkan siswa untuk memanfaatkan seluruh indra dan menerapkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;gaya belajar&lt;/span&gt; yang disukainya.

&lt;p align="justify"&gt;Proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kemampuan otak dalam menangkap, memproses, dan menganalisa informasi. Bila pembelajaran mampu menggabungkan kinerja dua belahan otak, maka siswa akan memperoleh hasil belajar yang optimal.

&lt;p align="justify"&gt;Salah satu metode untuk mengoptimalkan kerja kedua belahan otak tersebut, maka &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;piktogram&lt;/span&gt; dapat dijadikan sebagai salah satu alternatifnya.

&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah Piktogram itu&lt;/span&gt; ?

&lt;p align="justify"&gt;Piktogram adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pencatatan informasi&lt;/span&gt; yang menggabungkan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kata-kata dengan citra&lt;/span&gt;, baik yang berupa pemandangan, suara, bau, rasa dana sebagainya. Bentuknya bisa berupa grafik, metafora, benda fisik, cerita, maupun kiasan mental.

&lt;p align="justify"&gt;Alat dan bahan yang perlu kita siapkan adalah : kertas tebal (manila, karton, atau kertas bekas kalender) lem, spidol warna-warni.

&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana proses/prosedurnya&lt;/span&gt; ?

&lt;p align="justify"&gt;Pertama-tama yang perlu kita lakukan adalah membuat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;perancangan pembelajaran&lt;/span&gt;. Tentukan tema/materi yang akan kita bahas.

&lt;p align="justify"&gt;Buatlah beberapa kelompok terdiri 4 siswa. Masing-masing kelompok tentukan materi yang akan dibahas. Berdasar pembagian materi tersebut, tiap kelompok mintalah membuat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;rancangan pokok-pokok materi &lt;/span&gt;yang akan dibuat piktogram.
Mintalah masing-masing kelompok untuk menyusun piktogramnya.

&lt;p align="justify"&gt;Setelah itu lakukan beberapa skenario seperti :

&lt;p align="justify"&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pamerkan piktogram&lt;/span&gt; tiap kelompok di depan kelas. Mintlah tiap anggota kelompok untuk mengomentari atau merumuskan beberapa pertanyaan berdasar piktogram kelompok lainnya.

&lt;p align="justify"&gt;2. Mintalah masing-masing kelompok untuk &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;mempresentasikan piktogramnya&lt;/span&gt;, dan bimbinglah kelas melakukan diskusi.

&lt;p align="justify"&gt;3. Rancanglah kelas seolah-olah melakukan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tour ilmiah&lt;/span&gt;, dengan meminta setiap kelompok mempresentasikan piktogramnya. Ini sama dengan skenario kedua, hanya saja semua piktogram telah ditempel di tempat yang dipilih oleh masing-maisng kelompok. Mintalah setiap kelompok menunjuk seorang wakil untuk menjadi seorang ”&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ilmuwan&lt;/span&gt;” yang bertugas menjelaskan / mempresentasikan piktogramnya kepada ”&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;peserta tour&lt;/span&gt;” (yaitu anggota kelas yang tidak bertugas sebagai ”ilmuwan”). Untuk mengurangi tingkat stress ”ilmuwan”, mereka boleh menunjuk seorang ”&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;asisten&lt;/span&gt;” dari kelompoknya. Sedang anggota kelas yang lain bertindak sebagai peserta tour yang boleh mengajukan pertanyaan, sanggahan, ataupun dukungan kepada sang ”ilmuwan” dan ”asistennya.”&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3987898663083091643?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3987898663083091643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3987898663083091643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/04/pembelajaran-menggunakan-piktogram.html' title='Pembelajaran Menggunakan PIKTOGRAM'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-876309054552222561</id><published>2009-04-07T20:46:00.006+07:00</published><updated>2009-05-26T16:22:36.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>ENGLISH or BAHASA INDONESIA in TEYL ? (part 2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Advantage of Using English&lt;/span&gt;

&lt;p align="justify"&gt;The function of the target language (English) is not only as the content materials, but also as the &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;means of communication&lt;/span&gt; during the teaching and learning process. As the target language in the class is English, the teacher should use it as often as possible. The students will take this as the advantages if she/he often speaks in the target language.

&lt;p align="justify"&gt;The first advantage is the students will be...&lt;div&gt;
&lt;input style="margin: 0px; padding: 0px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';this.innerText = ''; this.value = 'Sembunyikan'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Tampilkan'; }" value="Tampilkan" type="button"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 1px solid rgb(125, 125, 125); margin: 10px auto; padding: 5px; background: #99C9FF none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 400px;"&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;familiar with the new expression&lt;/span&gt; if they often hear. Some expression like “ &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;So good is very good&lt;/span&gt;” and “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I’m vario, what about you ?&lt;/span&gt;” at first are strange for many students. Gradually they familiar with the words because they hear from television almost every minute. Finally they can use them in another situation. From the example above, it can be concluded that language is a matter of habit. If the students often hear, they will be able to use it in their communication.

&lt;p align="justify"&gt;The use of the target language in the classroom will encourage the students practise their predicting skill. As &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halliwell &lt;/span&gt;(1994) mentions that this contributes to the learning process by encouraging them to trust their instinct to predict meaning in spite of limited linguistic understanding, providing an element of indirect learning in that the students are not concentrating to but the brain is processing it nonetheless, confirming that language is something they actually use “for real” not just something they do exercises.

&lt;p align="justify"&gt;The students will get benefit if the teacher speaks more English as it will increase the amount of exposure. The more often they hear the language, the better result they will get. They can get example from the teacher on how to use the target language in real situation.

&lt;p align="justify"&gt;Finally, using English more often in the class will build students self confidence. The students will be more confidence if they find many persons speak using target language. Moreover, they know that English is the only language in the class. The teacher does need to worry if the students make mistakes. It is very normal mix language or different pronounciation. It is the teacher’s job to correct them by giving good models.

&lt;p align="justify"&gt;In summary, there are some reasons why the teacher should use English more often during the teaching and learning process to elementary school students, as it has many advantages. The teacher can help the students understand the language by &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;adapting the language, selecting the words, controlling the language, such as pronounciation, the volume and duration of speaking, as well as gestures, facial expressions, action&lt;/span&gt;. Which one the English teachers choose : “ &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Having students who can only do the exercises in the book&lt;/span&gt; “ or “ &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Having students who can communicate using English actively&lt;/span&gt; ?”

&lt;p align="justify"&gt;So, teachers, do the right job for your students. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Good job&lt;/span&gt;.
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-876309054552222561?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/876309054552222561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/876309054552222561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/04/english-or-bahasa-indonesia-in-teyl.html' title='ENGLISH or BAHASA INDONESIA in TEYL ? (part 2)'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-3604091375611175300</id><published>2009-04-05T21:50:00.002+07:00</published><updated>2009-05-26T16:30:14.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><title type='text'>WHAT THE MEANING of THE PEMILU by “WONG CILIK” ?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pemilu &lt;/strong&gt;or &lt;strong&gt;the election day&lt;/strong&gt;, is the “&lt;strong&gt;great party&lt;/strong&gt;” (the real means : the great moment) in Indonesia. In this moment, all party and all “&lt;strong&gt;caleg&lt;/strong&gt;” (the man/woman who candidate delegation for the senate/anggota dewan) get the grass root, give the promise, talk about the future of Indonesia or city, and give the konstituen “something” (the money or rice/sembako for vote them).

&lt;div align="justify"&gt;The question now (and the real question) is :
&lt;div align="justify"&gt;“ will they (the candidate for senate) really give their promise when they campaign ?”
&lt;div align="justify"&gt;“ If they really can win the election, will they really work for the people of this country or city ?” &lt;div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Let’s we hope so they really show what they said when campaign. Not the bullsit or “omong kosong doank.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
We all say “ &lt;strong&gt;The Peace Campaign for the Indonesia Pemilu 2009&lt;/strong&gt;.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://omjito.wordpress.com"&gt;&lt;/a&gt;
My Note : Please ! Don't forget in April 9, give your choice with "&lt;strong&gt;contreng&lt;/strong&gt;" what the party or "caleg" which you want. Don't &lt;strong&gt;GOLPUT.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-3604091375611175300?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3604091375611175300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/3604091375611175300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/04/what-meaning-of-pemilu-by-wong-cilik.html' title='&lt;strong&gt;WHAT THE MEANING of THE PEMILU by “WONG CILIK” ?&lt;/strong&gt;'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-97095723823039604</id><published>2009-03-26T10:35:00.001+07:00</published><updated>2009-05-26T16:19:23.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='english teacher'/><title type='text'>ENGLISH or Bahasa INDONESIA in TEYL ?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Teaching English to Young Learners (TEYL) is not a new thing in Indonesia. English is a local content subject which is taught at most of elementary schools. Now this subject is given not only in biig cities but also in remote places. As English is a foreign language subject, the teachers have their own considerations to choose the language of instruction in the class. Many of the english teachers are confidence and prefer to use Indonesian when they teach. However, other teachers are more confidence to use more English during the teaching learning process in the class. In this article the writer will share her ideas with the readers as the English teachers or candidate teachers. It will cover the strategy of using target language (English) and the advantages of using target language.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#000066;"&gt;&lt;strong&gt;STRATEGY OF USING ENGLISH&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;There are many English teachers who are reluctant to use english as a means of communication during the teaching-learning process inthe class. They think that their students are not familiar with the English, words, phrasses, sentences, and expresson. They will not understand the instruction if the teacher speaks English. as matter of fact, there are some reasons why English should be used as the language of instruction in the class and how to use it.&lt;/div&gt;

&lt;div&gt;
&lt;input style="margin: 0px; padding: 0px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';this.innerText = ''; this.value = 'Sembunyikan'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Tampilkan'; }" value="Tampilkan" type="button"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border: 1px solid rgb(125, 125, 125); margin: 10px auto; padding: 5px; background: rgb(0, 0, 0) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; width: 500px;"&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;
&lt;div align="justify"&gt;It is not reasonable if the English teacheers use other languages in English class. They do not need to be afraid that the students will not understand as the students bring with them an already well-established set of instinct, skills, and characteristics which will help them learn another language (English).&lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;Firstly, the students are already good at interpreting meaning without necessarily understanding meaning of the individual words. They will understand meanning of expressions from the context. Intonation, gesture, facial expression, actions, and circumstances will help them understand meaning. For example, the teacher asks the students to raise their hands. While she/he says, "Raise your hands." She/he raises her/his own hand to give the example of the action. If the students can do or answer a question, then she/he says "Very good" by showing her/his thumb. By giving the gesture, the students will understand the instruction. The teacher does not need to translate into Indonesian for simple insttructions. In short, kinesicks will help students interpreting meaning. Second, the students alrerady have great skill in using limited language creatively. They bring creative language skills when they come to a condition in which the urge to communicate makes them interact with the others. They will switch using mother tongue when they can not express their idea in the target language. Sometimes they will use gestures to convey ideas if they do not know the ennglish words. As a teacher, she/he should appreciate the students efforts when they use mixed languages.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Knowing the fact that the students have ability to grasp meaning, the english teacher should use the language in the class as much as possible. As engllish is new for the students, of course, the teacher should adapt the language in such a way so that they understand it easily. Here are some notes for the teacher how to use English as a language of instruction and communication in the class.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;The first is the teacher should use language at the student's level. Shhe/he should be able to select English words and expressions that the students will be able to follow. The language must be understandable for them. She/he should use simple sentences, not compound or complex sentences. The vocabularies which are used in the sentennces should be the familiar ones.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Then, the English teacher should avoid using complicated expressions. She/he can start introducing some English expressions in real situations. She/he can use daily instructions in English to make them familiar with the new language, for examples : "open your book", "clean the blacboard", "Raise your hand", etc.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sometimes the teacher is not aware that the students are not familiar with the target lannguage they learn. However, she/he speaks in full speed unconsciously. The duration of her/his speaking is too fast for the students so that they do not understand what she/he says. Giving pause in certain parts and repeating the expressions twice or three times will also help them catch the message from the teacher. Therefore, she/he should reduce the speed of her/his speaking.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Furthermorre, it is helpful if the teacher control the volume of her/his voice so that every student in the class can hear the voice. Besides, she/he should make sure whether her/his pronounciation is clear. She/he should give good and clear pronounciation to give good model to the students.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Another way to help the students understand when the teacher speaks English during the teaching process is using gestures, actions, facial expressions, and making noises. She/he may nod her/his head to say "yes" or shake it to say "no". If the students make noises in the class, she/he can clap the hands or click the fingers. This will make them pay attention to the teachher. Another example, the students are very happy and proud if they can answeer the teacher's question correctly. As a good teacher, she/he can give them a reward by saying "very good" and showing a gesture using the hands.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;In summary, an English teacher has no reasons not to use English as a language of instruction in the class. first reason is the students already have some strategies to undeerstand meaning. Second, the teacher ca help the students undersstand meaning not only by using some adaptation in the words, phrases, sentences, and exprressions, but also by controlling the volume, duration, and pronounciation as well as gestures.&lt;/div&gt;
&lt;!-- Begin Web-Stat banner code --&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://www.web-stat.com/?id=2811" target="_blank"&gt;&lt;img height="72" alt="Web-Stat web traffic analysis" src="http://www.web-stat.com/affiliate_banner2.jpg" width="392" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;!-- End Web-Stat banner code --&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-97095723823039604?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/97095723823039604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/97095723823039604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/03/teaching-english-to-young-learners-teyl.html' title='ENGLISH or Bahasa INDONESIA in TEYL ?'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-4751511992987571954</id><published>2009-03-22T13:31:00.001+07:00</published><updated>2009-05-26T16:33:22.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNAS'/><title type='text'>UNAS yang menggelikan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bulan-bulan ini adalah bulan dimulainya keresahan semua orang tua peserta didik yang duduk di kelas akhir satuan pendidikan, baik yang di kelas 6, kelas 9, maupun kelas 12. Bukan masalah krisis ekonomi yang kian menghebat dan tak ketahuan ujung pangkalnya dan kapan berakhirnya. Bukan pula karena bingung mau nyontreng siapa atau parpol mana pada pileg 9 april nanti. Apalagi bingung meimikirkan, melihat dan menghayati carut marutnya dunia perpolitikan di tanah air yang tak tentu siapa jadi kawannya siapa atau siapa jadi lawannya siapa.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Bulan ini adalah masa transisi, inkubasi, warming up dan segala istilahnya, hanya demi satu tujuan.........UJIAN NASIONAL DI DEPAN MATA. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Biarlah para caleg ribut berkoar meluapkan berjuta janji laksana hujan gerimis. Biarkan pula para birokrat yang berkarat dan politikus yang (sebentar lagi, jika sudah dapat kursi) melebihi polahnya tikus. Wahai para orang tua di seluruh dunia..........eh, ma'af..........di seluruh Indonesia (plus anak staf KBRI yang sekolah Inndonesia di luar negeri) bersatulah, galang dukungan untuk putra putrimu. Luput sedikit berarti mati......mati kesempatan mengenyam pendidikan yang berkualitas, mati emperoleh hak unntuk terus bersekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Tahun ini jangan buang energi bapak-ibu dan putra-putri untuk demo menentang UN, percuma.........karena mereka yang di Jakarta dan gedung dewan, juga sibuk, bingung, was-was, curiga dan sebagainya dan seterusnya memikirkan cara untuk bisa duduk di kursi empuk legislatif dan pemerintahan (salahkan para pelaku illegal logging yang dengan keterlaluan membabat habis hutan sehingga kini perajin mebel kesulitan membuat kursi..andai kayu tidak cepat habis, tukang mebel bisa membuat kursi sejumlah orang yang sedang berebut kursi kekuasaan).&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Bapak-ibu dan putra-putri tercinta, arahkan dan fokuskan tenaga dan pikiran sepenuh jiwa raga untuk meraih satu tujuan LULUS UJIAN NASIONAL. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Jika gegap gempita negeri ini telah selesai, mari kembali galang kekuatan menguji materiil UU yang digunakan untuk pembenaran pelaksanaan Ujian Nasional. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Di satu pihak UU tersebut memberi kewenangan guru dan sekolah untuk melakukan penilaian kepada peserta didik, namun penentu kelulusan adalah pemerintah dengan Ujian Nasionalnya. Bukan UU-nya yang salah, tapi semangat yang membuat UU itu laksana malaikat pencabut nyawa peserta didik yang selama tiga tahun penuh telah bersusah payah, bermandi keringat mengikuti pembelajaran sebagaimana yang digariskan oleh kurikulum. Namun apa daya, tiga tahun yang mengharu biru itu (karena anak bingung dengan materi pelajaran, orang tua yang bingung dengan segala tarikan biaya yang tidak masuk akal dan diuat-buat) lenyap tanpa bekas hanya dalam waktu empat hari yang menggetarkan. sehingga jangan salahkan jika :&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;1. anak berpikir apa gunanya mempelajari berbagai macam ilmu/mata pelajaran jika kelulusannya hanya ditentukan oleh empat bidang studi saja. Jadilah mereka bolos saat jam-jam belajar di sekolah.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;2. orang tua mencari jalan pintas jika ternyata anaknya benar-benar tidak lulus UN dengan menghalalkan "suap", "koneksi", "katebelece" unnuk bisa masuk ke sekolah yang bonafit, mengajarkan nilai-niali anti-sportivitas dengan membimbing anak via hape (jika orangtuanya kebetulan guru, atau mendoktrin anak mencari "lirikan" kanan kiri demi mencapai target LULUS).&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;3. institusi sekolah ikutan menghalalkan segala cara demi mempertahankan "kinerja/predikat" sekolah bergengsi sekalipun itu menciderai semangat dan makna dari pendidikan itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Jadi jangan salahkan jika kelak para caleg dan politikus adalah generasi-generasi yang "patah moral, tanpa nyali" hanya bermodalkan janji dan seutas tali (kalau kalah dalam pemilu dan gak kuat menanggung malu.........tinggal gantung diri). Jangan salahkan pula jika di masa dewasa mereka, Indonesia menjadi pusat film-film berwarna biru. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-4751511992987571954?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/4751511992987571954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=4751511992987571954&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/4751511992987571954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/4751511992987571954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/03/un-yang-menggelikan.html' title='UNAS yang menggelikan'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1496485069972175629.post-7534611816744938638</id><published>2009-03-22T11:00:00.002+07:00</published><updated>2009-05-26T16:13:20.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='privat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='foto bugil'/><title type='text'>KERESAHAN DI GEMPITA PERUBAHAN MENDUNIA</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScW7UYCfKYI/AAAAAAAAAAM/HjBulgKWsgM/s1600-h/SPHINX.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315860893905398146" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 216px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScW7UYCfKYI/AAAAAAAAAAM/HjBulgKWsgM/s320/SPHINX.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;Saudaraku, sadarkah dirimu akan fenomena masa kini yang mengatasnamakan arus &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;globalisasi&lt;/span&gt; ? Lihatkah dirimu betapa globalisasi hanya dimaknai sekedar pemuasan nafsu konsumtif dan pemakaian teknologi tanpa kontrol dan kendali ? Simaklah ! Berapa banyak orang muda (bahkan yang naif : orang tua ikut serta) yang menggunakan mazhab globalisasi hanya sebagai kedok untuk menghalalkan pemenuhan dan pemuasan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;nafsu syahwat&lt;/span&gt; mereka. Lihatlah ! Gambar, pose dan tayangan-tayangan yang "memerahkan mata", "membutakan hati", dan " memancing &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;birahi&lt;/span&gt;."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Saudaraku, mari bergandeng tangan merajut kembali serpihan-serpihan moral yang telah terkoyak, membangkitkan kembali harga diri yang telah mati, dan menguatkan harapan-harapan yang entah sejak kapan terbenam di dasar samudera hitam.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Karena resah gundah itu pula, izinkan kubuat blog ini sebagai lontaran jeritan-jeritan hati yang ingin kembali menjadi murni (walau aku tahu dan sadar nafsukupun tak kalah "rendahnya" dengan yang ada di "dunia maya"). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Izinkan kutuangkan ilmu dan kemampuan yang tak seberapa ini, hanya sekedar menjadi debu di arena maya maha dahsyat ini. &lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1496485069972175629-7534611816744938638?l=inovasiguru.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inovasiguru.blogspot.com/feeds/7534611816744938638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1496485069972175629&amp;postID=7534611816744938638&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7534611816744938638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1496485069972175629/posts/default/7534611816744938638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inovasiguru.blogspot.com/2009/03/keresahan-di-gempita-perubahan-mendunia.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;KERESAHAN DI GEMPITA PERUBAHAN MENDUNIA&lt;/span&gt;'/><author><name>sujito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02611985988021970403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScXP9ednz0I/AAAAAAAAAAg/2JSN0OmJh8A/S220/soedjito.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_eMCgoxhFi1Y/ScW7UYCfKYI/AAAAAAAAAAM/HjBulgKWsgM/s72-c/SPHINX.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
